Jumat, 27 September 2013

Negeri-Negeri Yang Telah Dibinasakan Bagian Ke-4




Pompei Mempunyai Akhir Yang Sama Dengan Kaum Luth

Al Qur’an menceritakan kepada kita dalam ayat berikut bahwa tidak akan ada perubahan
dalam hukum Allah.

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah;
sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka
akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang
kepada mereka pemberi peringatan,maka kedatangannya itu tidak menambah kepada
mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di
muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana itu tidak akan menimpa
selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-natikan
melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang
terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah.
(QS Al-Fathir: 42-43)


Ya, tidak akan ditemukan perubahan dalam jalan (Hukum) Allah. Siapapun yang
menentang hukum-Nya dan memberontak terhadap-Nya, akan menghadapi hukum suci yang
sama. Pompeii, sebuah simbul kemerosotan dari Kekaisaran Romawi yang juga terlibat dalam
perilaku sexual yang menyimpang dan berakhir pula sama halnya dengan kaum Lut.
Kehancuran Pompeii disebabkan oleh letusan gunung Vesuvius.

Gunung Vesuvius adalah symbol dari Italia terutama bagi kota Naples . Gunung yang
membisu selama dua ribu tahun terakhir. Vesuvius yang dinamakan “Gunung Peringatan”.
Bukannya tanpa sebab jika gunung ini dinamakan demikian. Bencana yang menimpa Sodom
dan Gomorah memiliki sangat banyak kemiripan dengan bencana yang menghancurkan
Pompeii.

Disebelah kanan Vesuvius terletak kota Naples dan disebelah kirinya terletak Pompeii.
Lava dan debu letusan besar gunung api yang terjadi dua ribu tahun lalu melanda warga kota
tersebut. Bencana yang terjadi sangatlah tiba-tiba sehingga segala sesuatunya terperangklap
sebagaimana dalam kehidupan mereka sehari-hari dan sampai sekarang sama seperti yang
terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu telah dibekukan.
Penghilangan Pompeii dari muka bumi dengan bencana seperti ini bukanlah tanpa
alasan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut adalah merupakan sarang
pemborosan/foya-foya dan perbuatan menyimpang. Kota ini dikenal dengan adanya pelacuran
yang sampai pada tingkat tertentu tidak diketahui lagi mana rumah pelacuran dan mana yang
bukan. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya digantung di depan pintu rumah pelacuran.
Menurut tradisi yang berakar dari kepercayaan Mithraic, organ seksual dan persetubuhan
tidaklah seharusnya disembunyikan namun dipertontonkan secara terang-terangan.

Namun lava dari Vesuvius menyapu bersih seluruh kota dari muka bumi dalam waktu
sekejap. Meskipun demikian sisi yang paling menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tidak ada
seorangpun yang selamat dari bencana letusan Vesuvius yang mengerikan ini. Sepertinya
mereka sama sekali tidak menyadari bencana tersebut, seolah-olah mereka sedang terlena dalam
pengaruh guna-guna. Sebuah keluarga yang sedang menyantap makanan mereka saat itu juga
menjadi batu (membatu). Beberapa pasangan ditemukan membatu dimana mereka sedang
melakukan hubungan badan. Hal yang paling menarik adalah bahwa terdapat pasangan yang
berjenis kelamin sama dan pasangan muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari kebanyakan
jasad manusia membatu yang digali dari Pompeii masih utuh sama sekali, ekspresi wajah-wajah
tersebut pada umumnya nampak kebingungan/terkagum-kagum.

Disini terdapat sisi yang paling tidak bisa dimengerti dari sebuah bencana. Bagaimana
mungkin ribuan orang yang menunggu untuk dijemput sang kematian tanpa mereka melihat dan
mendengar apapun?.

Sisi yang nampak dari peristiwa ini menunjukan bahwa menghilangnya Pompeii
mirip dengan peristiwa kehancuran sebagimana yang disebutkan dalan Al Qur’an yang
secara jelas menyebutkan “pembinasaan yang tiba-tiba” seperti yang dihubungkan
dengan peristiwa ini. Sebagai contoh “warga kota” disebutkan dalam Surat Yasin, bahwa
kesemuanya mati secara mendadak dalam waktu yang bersamaan. Keadaan ini
diceritakan sebagai berikut dalam Surat Yasin ayat 29:


Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka
semuanya mati.

Dalam Ayat 31 Surat al-Qamar, sekali lagi “pembinasan seketika” ditekankan
ketika penghancuran kaum Tsamud dikisahkan:
 

Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka
jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang
binatang.

Kematian warga kota Pompeii yang terjadi secara tiba-tiba memiliki kemiripan
sebagaimana diceritakan dalam ayat terebut diatas.
Meskpun demikian tidak banyak hal yang telah berubah sejak Pompeii dihancurkan.
Daerah Naples dimana pesta pora berlaku, tidak serusak sebagaimana halnya daerah Pompeii
yang tidak bermoral. Kepulauan Capri adalah asal muasal kaum homoseksual dan kaum nudist
bertempat tinggal. Kepulauan Capri dilambangkan sebagai “surga kaum homo” dalam iklan
pariwisata. Tidak hanya di kepulauan Capri dan di Italia saja, namun hampir diseluruh dunia
dimana kebobrokan moral yang sama sedang terjadi dan orang-orang tetap bersikeras untuk
tidak mengambil pelajaran dari kaum-kaum terdahulu.
 sumber: ais@agus-haris.net

0 komentar:

Poskan Komentar

| Guru Madrasah Blog © 2013. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Edited by Abdul Hanan | Back To Top |