Showing posts with label KESENIAN SASAK. Show all posts
Showing posts with label KESENIAN SASAK. Show all posts

Thursday, May 30, 2013

Tentang Lombok

0 comments


Lombok
Lombok, menarik tidak hanya karena peralihan di antara Indonesia Asia dan Australia fauna dan flora zona- atau yang dikenal sebagai garis Wallace, tetapi dikarenakan oleh dandanan kebudayaan yang memikat,dan berbagai elemen pencampuran kebudayaan itu sendiri.
Lombok di kenal dengan" putri cantik yang terTidur". para pengunjung dari eropa menggambarkannya sebagai "desa perdana yang muda dan yang manis " jika dipandang dari pojok mata yang gemerlapan. Di satu hal, Lombok kelihatannya seperti Bali 50 tahun yang lalu.Ini disebabkan bahwa pada akhir abad ke-17 banyak orang bali yang berdatagan ke lombok dan masing-masing mempunyai kebudayaan dan peninggalan etniknya sendiri.
Kebudayaan Lombok dengan kuat dipengaruhi oleh elemen dari luar, khususnya dari Bali, Jawa (majapahit) dan Goa. pola hiasan elemen Asing meliputi, di antaranya, lewat keramik Cina dari periode Dynasty Ming.
Pengaruh kebudayaan Sumbawa dan bima dipantulkan di rumah tradisional, pakaian, upacara tradisional dan kepercayaan.
__________________________
Sumber : http://semuatentanglombok.blogspot.com/2009/12/sekilas-tentang-lombok.html
read more

Tuesday, May 14, 2013

Wayang Sasak

0 comments


 WAYANG SERAT MENAQ
 wayang sasak
Wayang adalah salah satu bentuk seni pertunjukan yang ada di Gumi Sasak sebagaimana daerah lain di Nusantara. Mengenai permulaan wayang di Lombk, tak seorang pun di zaman ini yang dapat mengetahui dengan pasti  kapan tepat pertama kali ( hari, tanggal, bulan dan tahun)  wayang masuk di Gumi Sasak. Kenyataannya bahwa tidak dijumpai leteratur tulisan yang mengungkapkan hal tersebut. 
Sekilas Tentang Sejarah Wayang Serat Menak Sasak
Menurut riwayat, menjelang kedatangan Islam di Lombok pernah terjadi musim pacakelik yang panjang yaitu selama tujuh tahun. Tanah menjadi kering dan rakyat menderita kelaparan. Hasil musyawarah para raja yang ada di Lombok memutuskan untuk mengutus  Datu Perigi untuk pergi bertapa ke Gunung Rinjani memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam pertapaan itu Datu Perigi didatangi seorang berjubah putih yang bersedia membantu mencarikan jalan keluar mengatasi musim sulit yang dialami rakyat Gumi Sasak Datu Perigi disarankan mengadakan Gawe Mangajengan dan dalam gawe tersebut harus disertai dengan pagelaran wayang kulit.
Kemerau panjang itu terjadi hingga akhir abad XIV, jadi gawe magajengan itu dilaksanakan pada abad XV. Petunjuk ini memberikan indikasi bahwa wayang di Lombok sudah ada saat itu. Hal ini sejalan dengan pendapat Lalu Satriah yang menggunakan Babad Lombok sebagai sumber informasi. Lalu Satriah mengatakan bahwa wayang di Lombok sudah ada sebelum Sunan Prapen datang ke Lombok. Sunan Prapen datang di lombok sekitar tahun 884 H. Atau 1464 Masehi.
Di lain pihak, Lalu Maas dalam sebuah risalahnya ” Selintas Kilas Pewayangan di Lombok Timur ” mengatakan, bahwa yang pertama kali membawa wayang di Lombok adalah utusan Wali Songo dari Jawa yang datang untuk menyebarkan Islam. Wali Songo sering menggunakan wayang kulit sebagai media penyebaran Islam.
Mitos Wali Nyato’ diceritakan oleh Satriah bahwa ketika Wali Nyato’ masih muda, pada suatu malam beliau pergi menonton pertunjukan wayang ke tanah Jawa bersama-sama dengan teman akrab beliau dari Rembitan. Beliau berangkat menjelang waktu  isya ke Jawa dan pulang esok harinya menjelang  waktu subuh. Beliau menceritakan pengalamannya menonton wayang di tanah Jawa malam itu kepada teman- teman sepergaulan. Sejak saat itu tidak lama kemudian di Lombok ada pagelaran wayang kulit.
Mitos Pangeran Sangu Urip Pati , diceritakan oleh H. Lalu Ambawa  bahwa wayang pertama kali dibawa oleh Pangeran Sangu Urip Pati utusan Wali Songo dari Tanah Jawa. Beliau menyebarkan Islam dengan penuh perjuangan dan tidak meminta upah dalam menyajikan pertunjukan wayang. Upahnya hanya mereka yang menonton wayang harus membaca dua kalimah syahadat.  Melihat kenyataan ini berarti bahwa jelas wayang yang berkembang di Lombok adalah berasal dari Jawa.
Pewayangan yang berkembang lambat laun di Gumi Sasak dinamakan wayang Serat Menak Sasak. Lakon-lakonnya bertumpu pada kesusastraan wayang yang dikenal dengan Serat Menak. Serat Menak ini diubah dari hikayat Amir Hamzah, yang selaras dengan khasanah  kesusastraan Melayu  yang mengambil tema Persia, Syah Nameh, dan ditulis dengan bahasa Jawa.
Amir Hamzah adalah paman Nabi Muhammad SAW. yang  memperjuangkan agama Islam waktu itu. Amir Hamzah dijadikan tokoh sentral dalam pewayangan Serat Menak Sasak. Nama lain dari Amir Hamzah dalam pewayangan adalah Wong Agung, Jayeng Rane, Wong Menak, Ambiyah, Sang Menak Jayeng Murti dan lain-lain.
Satu hal yang perlu diketahui menurut  penjelasan dalang Ki Lalu Jaye bahwa cerita pewayangan Serat Menak Sasak adalah cerita yang dirilis sebelum kelahiran baginda Rasulullah SAW hingga menjelang kelahirannya. Setelah itu tidak boleh lagi ada cerita yang dirilis, apa lagi menyangkut tentang Nabi. Jadi segala lakon yang dituturkan dalam wayang Serat Menak  adalah lakon tokoh sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Bahasa yang dipergunakan dalam Wayang Menak Sasak adalah bahasa Kawi. Bahasa Kawi ini merupakan bahasa yang bersumber dari Jawa. Dengan demikian  apa bila kita melihat kenyataan-kenyataan tersebut berarti semakin jelas bahwa wayang, pewayangan, pedalangan Sasak adalah produk kebudayaan Jawa.
Mengenai lakon-lakon yang biasa dipentaskan dalam wayang Serat Menak Sasak bersumber dari babon Serat Menak. Dari babon Serta Menak ini diturunkan cerita carangan seperti lakon Bangbari, Lahat, Liman Tarujinaka, Jubil, Kawitan Maktal, Kawitan Selandir, Kabar Sundari, Rengganis dan lain-lain.
LAKON YANG DIKENAL DALAM WAYANG SASAK
Pada pewayangan Serat Menak Sasak, banyak cerita yang dilakonkan. Cerita-cerita tersebut antara lain :
  1. Kawitan Maktal
  2. Kawitan Selandir
  3. Kabar Sundari
  4. Ajar wali
  5. Rengganis
Selain cerita yang disebutkan di atas masih banyak lagi cerita yang dilakonkan oleh para dalang. Salah satu yang paling terkenal ditulis dalam takepan daun lontar. Cerita tersebut dinamakan kelampan bel. Bel ini terdiri atas beberapa penangkilan atau episode. Paling kurang ada 7 (tujuh) penangkilan dalam lelampan bel. Bel ini mengisahkan tentang perjalanan Amir Hamzah atau Wong Menak dan Umar Maye yang berjalan menelusuri gumi untuk menyebarkan kebaikan.
_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

JENIS MUSIK TRADISIONAL SASAK

0 comments


A. Genggong
Alat musik ini termasuk dalam jenis alat musik tiup yang terbuat dari pelepah daun enau. Secara etimologis kata genggong berasal dai kata “geng” (suara tinggi) disebut genggong lanang, dan “gong” (suara rendah) disebut wadon, sehingga musik genggong selalu dimainkan secara berpasangan. Musik genggong orkestra dapat dimainkan dengan musik yang lain secara bersamaan seperti petuq, seruling, rincik dan lain-lain.
B. Mandolin dan Gambus
Mandolin merupakan sebuah alat musik petik tradisional yang mempunyai senar yang dimainkan seperti biola. Sering dipakai untuk mengiringi tari rudat dan lagu-lagu tradisional. Alat musik ini dapat dipadukan dengan alat musik lainnya untuk mengiringi lagu tradisional. Sedangkan Gambus juga alat musik petik dengan menggunakan dawai sebagai sumber suara (bunyi) yang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional. Dapat dimainkan secara bersama-sama atau tersendiri.
C. Rebana Burdah
 Sebuah bentuk alat musik akulturasi kebudayaan bangsa Arab dengan Etnis Sasak. Rebana Burdah dipadukan dengan syair-syair pujian terhadap Allah SWT dan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dipetik dari kitab karya sastra  Arab “Al-Barzanzi”.
 D. Barong Tengkok
 Merupakan salah satu jenis orkestra Lombok, terdiri dari kerenceng enam pasang, satu buah gendak dan sebuah petuk. Barong lanang/wadon yang berfungsi sebagai tempat reong sebuah gong dan tiga buah seruling sebagai pembawa melodi. Disebut Barong Tengkok karena salah satu alatnya (reong) diletakkan pada bentuk Barong yang di bawa dengan tengkokan.
E. Musik Gule Gending
 Senis alat musik pukul khas Lombok , cara membunyikannya dengan tangan. Disebut Gula Gending karena alat ini dipakai untuk menjajakan sejenis makanan yang terbuat dari gula putih. Untuk menarik pembeli, tempat gula (tanggok) dipukul berirama sebagai musik. Dulu alat ini terdiri dari tengkok dan rincik dan dalam perkembangannya ditambah dengan mandolin, gendang dan seruling.
F. Rebana Gending
 Rebana merupakan sebuah bentuk alat musik orkestra yang merupakan hasil pengembangan kreasi seni dari rebana lima oktaf oleh Aq. Sarah pada tahun 1956.
G. Gendang Beleq
gendang beleq
 Disebut  Gendang Belek karena alat musiknya adalah gendang belek (gendang besar). Orkestra ini terdiri atas 2 buah yaitu :
  1. Gendang mama (laki-laki)
  2. Gendang nine (perempuan)
Keduanya berfungsi sebagai pembawa dinamika. Kemudian peralatan lainnya adalah (1) sebuah gendang kodeq (gendang kecil), (2) dua buah reong yang terdiri dari reong mama dan reong nina berfungsi sebagai pembawa melodi,  (3) sebuah perebaq beleq yang berfungsi sebagai alat ritmis, (4) delapan buah perebak kodeq, disebut juga “copek”, berfungsi sebagai alat ritmis, (5) sebuah petuk sebagai alat ritmis, (6) sebuah gong besar sebagai alat ritmis, (7) sebuah gong penyentak sebagai alat ritmis, (8) sebuah gong oncer sebagai alat ritmis, dan (9) dua buah bendera merah atau kuning yang disebut lelontek.
Gendang beleq ini dulu dimainkan kalau ada pesta-pesta kerajaan, sedangkan kalau perang perfungsi sebagai komandan perang, sedangkan copek menjadi prajuritnya. Kalau perlu datu (raja) ikut berperang, disini patung agung akan digunakan. Sekarang fungsi payung ini ditiru dalam upacara perkawinan. Gendang beleq dapat dimainkan dengan berjalan atau duduk. Komposisi berjalan mempunyai aturan tertentu, berbeda dengan duduk yang tidak mempunyai aturan. Pada waktu dimainkan pembawa gendang beleq akan memainkan sambil menari, demikian juga pembawa petuk, sopek dan lelontok.
H. Cilokaq
 Musik ini terdiri atas bermacam-macam alat yakni :
  1. Alat petik, gambus ada dua buah masing-masing berfungsi sebagai melodi dan akor.
  2. Alat gesek, biola ada dua buah berfungsi sebagai pembawa melodi. Gambus terbuat dari kayu gerupuk dan kulit kambing sebagai resonatornya. Bentuknya  menyerupai gitar, hanya pada bagian perutnya tidak berpinggang. Senarnya terdiri atas empat nada, masing –masing satu senar.
  3. Alat tiup, suling dan pererat yang berfungsi sebagai pembawa melodi.
  4. Alat pukul, gendang ada tiga buah, masing –masing berfungsi sebagai pembawa irama, pembawa dinamika dan tempo, juga sebagai gong. Rerincik digunakan sebagai alat ritmis.
Fungsi orkestra ini adalah sebagai hiburan pada acara perkawinan, khitanan atau hari-hari besar nasional dan daerah. Orkestra ini datang pada tempat pesta dengan ditanggap (diupah). Selain itu dapat juga berfungsi sebagai pemberi semangat dalam gotong royong. Dengan gambus ini orang membawakan lagu-lagu untuk pengisi waktu senggang dan pelepas lelah. Berangsur-angsur gambus ditambahkan dan dikombinasikan dengan lat-alat lain sebagai pelengkap irama, melodi dan ritmis lagu-lagu yang dibawakan.
Pada tahun 1948 disebuah desa yang bernama Lengkok Kali, kecamatan Sakra, cilokaq dipagelarkan sebagai musik orkestra. Pagelaran tersebut dipimpin oleh Mamiq Srinatih (alm), dan selanjutnya dianggap sebagai pecinta musik cilokaq. Nama cilokak diambil dari salah satu nama atau judul lagu yang digemari pada saat itu. Namun pendapat yang mengatakan cilokaq berasal dari kata  seloka , lebih mendekati kenyataan karena syair-syair yang dinamakan merupakan sloka.
Cilokaq yang ada di Sakra sekarang ini merupakan kelanjutan dari cilokaq yang lahir di desa Lingkok Kali 30 tahun yang lalu. Pada tahun1968 cilokaq lebih dikenal setelah mendapat bimbingan dari seorang pemusik keroncong bernama Lalu Sinarep. Ia berusaha memasukka teknik musik keroncong dan lagu-lagu lain dari cilokaq. Sekarang musik cilokaq sudah direkam diperjualbelikan di pulau Lombok dan di daerah lain. Lagu-lagu yang dimainkan oleh cilokaq ini umumnya di sebut kayak.
Kayak merupakan kesenian yang sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan di pulau Lombok. Biasanya orang –orang pedesaan melagukan sambil menanam atau memotong padi di sawah. Kayak pada saat memotong padi di sawah di sebut kayak  mataq. Kayak mataq merupakan kayak rubahan baru yang terdiri atas empat baris. Dalam membawakannya dapat berisi  nasehat-nasehat, percintaan, atau ekspresi jiwa lainnya. Pada masing-masing desa kayaq  mempunyai ciri tersendiri, namun bagi yang sudah biasa mendengarnya dapat membedakannya. Nama kayak ada yang diberikan menurut tempat lahirnya, kayaq Padamara adalah kayaq dari desa Pademara, Lombok Timur.
Kayaq yang susunan nadanya non-dianotis antara lain : kayaq Mataq, Kayaq Jor, kayaq Nyati, kayaq Pekosong, Kayaq Bayemare, kayaq Padamara, kayaq Mare, Kayaq Sakra, kayaq Turun Tangis, Pemban Selaparang, Sandaran, Ngesek Kumambang Pitue, Begur gati-gati, Pengeli Eling, Do Gendang, Jeruk Manis, Gelung Perade, Musim Ujan, lagu yang memakai nada dianotis : Genjak, Gending lampak, Setembe, Amaq Teme, Sembarang Kelor, Lagu Daeng, Lagu Tanjung Luar, Lagu Anton-anton.
=================================================================
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas IV oleh H. Sudirman dkk.
read more

| Guru Madrasah Blog © 2013. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Edited by Abdul Hanan | Back To Top |