Showing posts with label Cerita Sasak. Show all posts
Showing posts with label Cerita Sasak. Show all posts

Monday, May 13, 2013

Babad Lombok

0 comments

Babad Lombok berpengantar bahasa Jawa Kuno (Kawi) setelah pemaparan mukaddimah (exordium) barulah mulai bertutur mengenai Nabi Adam dan Hawa.
Sepeninggal Nabi Adam, para iblis melakukan propaganda besar-besaran untuk menyesatkan umat manusia. Iblis-iblis ini mengatakan kepada umat manusia bahwa mereka sudah bertemu dengan Nabi dan mendapat pesan dari Nabi Adam untuk manusia. Isi pesan tersebut ialah barang siapa yang hendak bertemu dengan Nabi Adam hendaklah ia mendirikan sanggah, sanggar serta sesaji. Babi, anjing, tuak dan berem dihalalkan semua. Ajaran ini kemudian disebut wratsari, dibawa oleh pendeta gurundeh dari Buda Klin. Maka banyaklah umat manusia yang terseret ke dalam ajaran iblis.
Pada masa berikutnya, Nabi Nuh Alaihissalam menyebarkan ajarannya.Ada sebagian umat manusia dari negeri Talpaman yang ingkar. Manakala hukuman Tuhan turun, berupa serangan Raja Amir Hamzah yang berasal dari Negeri Mekkah,maka kaum Talpaman melarikan diri dari negerinya dan sampailah mereka di pulau Lombok. Di pulau Lombok mereka menyerang sebuah desa yang bernama desa Laek. Penduduk desa ini kemudian melarikan diri dan mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama desa Pamotan.
Babat Lombok juga  menuturkan pula bagaimana rakyat Pamotan memilih dan menobatkan rajanya. Mereka memilih seorang di antara mereka yang berbudi baik,berwibawa dan berpikiran cerdas untuk dijadikan rajanya. Setelah salah seorang terpilih  dibuatkanlah rumah, diberi pakaian yang baik, kuda dan senjata untuk sang raja.
Meletusnya gunung Rinjani selama tujuh hari tujuh malam mengakibatkan kehancuran besar. Puluhan ribu manusia meninggal dan sisanya yang selamat mengungsi ke puncak-puncak bukit. Setelah keadaan aman kembali, penduduk yang terkena musibah kemudian mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama Jero Baru (Jerowaru).
Selanjutnya kedatangan orang Jawa dari kerajaan Maja Pahit, kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Lombok dan Bayan. Konon putra raja Maja Pahit yang sulung menjadi Raja Lombok dan adiknya menjadi Raja di Bayan.
Bagian selanjutnya dari babad ini menuturkan kisah asmaara yang berujung tragis antara Lala Seruni dengan Sandubaya.raja Lombok bernama Kerta Jaya, yang tergila-gila pada Lala  Seruni. Kerta Jaya  telah melaksanakan tipu daya dan menyuruh membunuh suami Lala Saruni (Sandubaya) di hutan perburuan Gebong. Namun akhirnya sang pembunuh pun menemui ajalnya karena membanting diri ke batu ketika Lala Seruni dibawa oleh Cukli Ajaib ke tengah Samudra untuk menyatu dengan roh suaminya.
Perang pun terjadi antara prabu Lombok dengan Demung Brangbatun (kakak Sandubaya). Peperangan berlangsung cukup lama, baru berakhir di masa Prabu Rangkasari, pengganti Prabu Lombok Kerta Jaya.
Yang menarik dari cerita ini adalah pelaksanaan perang yang dilakukan secara aneh, yaitu dengan bersenjatakan binatang laut (pasukan kerajaan Lombok) melawan pasukan kerajaan Brangbantun yang bersenjatakan jajan dan bahan makanan lainnya. Bentuk perang seperti ini diusulkan oleh Prabu Rangkasari karena ingin menghindari korban manusia dan harta benda.
Bagian selanjutnya dari babad Lombok menceritakan perjalanan muballigh Islam di bawah pimpinan Sunan Giri Prapen untuk menyebarkan Agama Islam di Gugusan Sunda kecil. Bersama beliau adalah Patih Madura, Jayeng Lengkara, Tumenggung Semarang, Tumenggung Surabaya, Patih Mataram,dan Patih Tuban. Pada saat itu Agama orang Sasak adalah  agama Wratsari (suatu bentuk agama asli Sasak pada waktu lampau). Pada masa masuknya Islam ini pusat kerajaan dipindahkan ke bagian tengah daratan yaitu ke Selaparang.
Babad Lombok ini kemudian bertutur mengenai kehidupan kerajaan Pejanggik dengan rajanya Wirocandra. Dikisahkan ada seorang Patih Muda yang bergelar Banjar Getas telah membuat begitu banyak ulah sehingga kerajaan Pejanggik Jatuh ke tangan kekuasaan Bali. Berikutnya,kekuasaan Selaparang juga terpaksa harus menyerah kepada raja Karang Asem Lombok, meskipun raja dan rakyatnya telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya demi Bangsa dan Negaranya.Tuturan mengenai polah tingkah Banjar Getas inilah yang memenuhi alur cerita bagian akhir dari babad Lombok ini.
______________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Babad Praya Lombok

0 comments


 1.     Ringkasan Babad Praya (Mengawi).
Babad Praya sebagaimana halnya babad-babad yang lain seperti babad Lombok, Babad Selaparang (Babad Sakra) merupakan nukilan sejarah yaitu sejarah Praya sewaktu melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Anak Agung. Pemberontakan pertanian di Praya terjadi sebagai akibat dari adanya pajak yang memberatkan rakyat Praya.
Pemberontakan Praya terjadi pada tahun 1891 di bawah pimpinan Lalu Semail atau yang lazim disebut dengan Guru Bangkol yang dibantu oleh pemuka lainnya yaitu H.Dolah, H.Yasin, Mamiq Sepian, Mamiq Diraja, Mamiq Srinata, Ocet Talib dan lain-lain. Dalam babad ini juga diceritakan adanya seorang yang menyatakan dirinya berkebangsaan Arab bernama Tuan Serip. Ia adalah pengacau dan pengadu domba kedua belah pihak yang berperang. Karena siasat adu domba itulah maka ia berhasil mempengaruhi beberapa daerah lainnya, seperti Sakra, Masbagik,  Jerowaru, Pujut, Puyung, Kopang, Batukliang, Penujak, Jonggat, Sukarara dan Kediri untuk mengadakan pemberontakan bersama-sama dengan Praya.
Demikianlah maka perang tak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak masing-masing mempersiapkan diri. Pihak Anak Agung dipimpin oleh Ratu Made dibantu oleh Ratu Nengah Gengsok, Anak Agung Made Jelantik, Bagus Nyoman Gel-gel, Ida Conding dan lain-lain keluar dari Cakranegara menuju ke timur untuk menyerbu Praya. Demikian pula Praya yang semula telah sepakat menggabungkan kekuatan dengan Puyung mulai bergerak ke arah barat menuju Cakra untuk mengadakan penyerbuan. Akan tetapi  Puyung tak dapat memenuhi janjinya dan tak dapat dilewati oleh pasukan Praya karena dijaga ketat oleh para  prajurit yang setia di bawah pemerintahan Anak Agung. Pada waktu penyerngan pertama Lalu Semail alias Guru Bangkol tidak bisa seterusnya memimpin pasukan, karena mendadak sakit perut di tengah jalan. Ia terpaksa kembali ke Praya karena sakit.Kedua pasukan itu akhirnya bertemu di Batukeliang di tempat pertemuan pertama terjadi.
Pertemuan demi pertemuan terus berlangsug sampai akhirnya pasukan Anak Agung dapat memasuki Praya. Inilah yang menyebabkan sebagian warga kota Praya harus mengungsi. Sisa-sisa warga kota dan para pemimpin mereka itulah yang terus mengadakan perlawanan dengan siasat perang bertahan di tempat. Masjid dijadikan tempat pertahanan mereka dengan mempergunakan senjata seadanaya berupa keris-keris, tombak, pedang dan lain-lain. Sedangkan persenjataan Anak Agung cukup modern karena sebagian besar memakai bedil. Karena merasa kawatir terdesak oleh musuh, maka pada suatu saat, mereka membuat semacam taktik yaitu dengan mengikatkan tombak pada orang-orangan yang terbuat dari bumbug. Kalau talinya ditarik, maka semua orang-orangan itu akan bergerak seperti orang yang hendak menombak. Diceritakan bahwa siasat ini cukup berhasil karena musuh tidak berani maju mengadakan perlawanan.
Penyerbuan Anak Agung tidak berhenti sampai di sini,  mereka terus menerus berusaha menduduki Praya dengan berbagai cara seperti membakar rumah-rumah penduduk desa  dan masjid yang dijadikan tempat pertahanan. Pada saat itu hampir semua daerah Praya dapat diduduki oleh Anak Agung. Daerah sekitarnya sampai sebelah barat Leneng dan dari segala penjuru telah dibentengi Anak Agung. Akan tetapi  dengan sisa kekuatan dan kemampuan yang ada, Praya terus bertahan sampai akhirnya berhasil mengusir Anak Agung dari Leneng.
Hal ini  merupakan awal kemenangan Praya. Kekalahan pasukannya membuat Anak Agung Made Karangasem bersama Anak Agung Ketut Karangasem kembali menyusun strategi baru. Usahanya ini juga gagal karena daerah-daerah di luar Praya seperti Jrowaru, Sakra, Apitaik, Pringgabaya, Pohgading,dan daerah pesisir lainnya yang sebelumnya setia kepada Anak Agung kini dibawah pimpinan H. Ali dan Mamiq Wirasentana berbalik melawan Anak Agung. Demikian pula halnya dengan Puyung yang dijadikan markas pertahanan Mataram, akhirnya dapat dikuasai oleh Praya setelah Pujut, Kawo,  Penujak, Batujai, Mujur,dan Marong ikut menggabungkan diri. Dengan demikian berakhir pulalah upaya pendudukan Anak Agung terhadap Praya dan daerah-daerah lainnya.
2.     Ringkasan Babad Praya
Lontar babad Praya ditulis oleh penulis Sasak yang yang berasal dari desa Batujai. Lontar ini menceritakan sebab-sebab terjadinya pemberontakan pemuka masyarakat terhadap kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah Karangasem yang berkuasa pada saat itu.
Sistem  penulisan lontar ini dalam bentuk sekaran (tembang) berbahasa Sasak. Ceritanya berawal dari latar belakang pemberontakan Praya. Diceritakan,pemberontakan terjadi karena adanya hasutan dari kalangan istana dan seorang yang berkebangsaan Arab bernama Tuan Sayid Abdullah yang menetap di Ampenan. Hal ini terjadi  sebagaia akibat adanya tekanan dan keharusan membayar upeti (pajak) serta adanya suatu paham yang keliru tentang dihalalkannya mencuri harta orang non muslim (Bali). Yang disebut terakhir merupakan penyebab khusus (Triger-penyelut) mulainya peperangan. Fitnah dan informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan telah memperuncing suasana di antar kedua belah puhak.
Dalam keadaan seperti itu, keputusan-keputusan yang diambil tanpa melalui perhitungan atau pemikiran panjang. Pihak yang satu mengunggulkan keberaniannya dan pihak yang lain membanggakan kekuatannya. Berbagai kelemahan pada masing-masing pihak dilukiskan dalam babad Praya ini misalnya, ketergesaan yang membawa kesulitan pada pihak Praya dan kesalahan strategi Anak Agung Made sebagai panglima perang kerajaan Mataram. Anak Agung mempergunakan pasukan Islam (Sasak) Praya. Dalam babad ini diceritakan pula akibat dari perang yang terjadi, berupa korban jiwa dan harta benda. Perang ini berakhir dengan kehancuran kerajaan Karang Asem Lombok dan masuknya Kolonialisme Belanda di Lombok.
Siapakah yang menang di antara mereka dalam perang saudara ini? Itulah pertanyaan yang muncul setelah membaca babad ini.Seperti bunyi ungkapan serat menak.
Yaktining para ratu kang ajurit
Kasoran tan kasoran
Unggul woten unggul
Mung sampeyan katiwasan
Para ratu lahire ungguling jurit
Nanging paduka tiwas
Artinya :
Sesungguhnya para pemimpin yang berperang
Kalah tiada kalah
Hanyalah Tuan terpedaya
Para pemimpin lahirnya menang perang
Tapi tuan-tuan terpedaya
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Cerita Cupak Gerantang

0 comments
Lontar Cupak Gerantang yang ditulis dalam bentuk sekaran dengan pengantar bahasa Sasak ini membuka tuturannya dengan menceritakan penculikan terhadap putri Daha oleh raksasa Limandaru.L imandaru yang berarti raksasa bermuka gajah dengan sorotan mata bagai api adalah raksasa yang sangat sakti dan sudah lama mengidam-idamkan putri  Daha untuk dijadikan anaknya.  Hasrat Si Limandaru pun terwujud.   Putri Daha yang berhasil diculuknya disembunyikan di dalam goa.
Prajurit Daha kemudian dikerahkan untuk merebut kembali putri yang diculik itu. Prajurit kerajaan di bawah pimpinan Raden Panji (kekasih sang putri) juga ikut dikerahkan, akan tetapi  semuanya menemui kegagalan. Sang Putri tetap ditangan Limandaru.  Bahkan Raden Panji sendiri nyaris menemui ajalnya. Rasa malu dan kecewa karena kegagalan ini membuat Raden Panji memutuskan untuk pergi berkelana mencari kesaktian.
Tersebutlah seorang abdi kerajaan Daha yang lolos dari cengkraman maut bernama si Bosok. Ia bersedia mengikuti pengembaraan Raden Panji, asalkan diakui sebagai saudaranya. Kedua insan itu pun pergi bertafa ke gua Galagala. Berkat  kekuasaan Tuhan, keduanya menjelma kembali menjadi anak kecil. Si Bosok yang dimandikan di Pekuburan Keramat diberi nama Raden Cupak. Rupa wajah Raden Cupak sangat serem dengan kepala botak dan perut gendut. Sedangkan Raden Panji yang disucikan di sebuah mata air diberi nama Raden Gurantang yang wujud fisiknya sangat baik, ampan, serta dengan perangai halus dan budi pekerti luhur.
Selanjutnya diceritakan Cupak dan Gurantang melakukan pengembaraan. Pada suatu saat mereka bertemu dengan Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol.  Mereka mengangkat Raden Cupoak dan Raden Gurantang sebagai anak.
Pada lanjutan kisah, Selama menjadi anak angkat Inaq Bangkol, terlihat perbedaan perangai kedua tokoh ini. Raden Cupak yang bertampang buruk mewakili sifat-sifat yang buruk. Hatinya busuk, tidak jujur, pemalas, serakah, dan perbuatan culas lainnya. Sedangkan Gurantang dengan tampang yang bagus mewakili sifat-sifat yang bagus pula seperti jujur, tulus ikhlas, rela berkorban, rajin, rendah hati,dan sejenisnya. Meskipun ia memiliki kesaktian yang tinggi, tetapi tidak sombong.
Cerita dilanjutkan  dengan pengembaran Cupak dan Gurantang. Setelah Raden Cupoak bertingkah laku tidak baik, terhadap Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol, Raden Gurantang merasa malu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan Mengembara tanpa tujuan keluar hutan masuk hutan.
 Pada bagian tengah cerita mengisahkan tentang adanya sayembara dalam rangka merebut kembali putrid Daha dari tangan raksasa Llimandaru. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raden Gurantang alias Raden Panji. Ia memang sudah lama  bertekad merebut kembali kekasihnya dari tangan Limandaru. Tetapi  rupanya kehadiran Cupak sebagai saudara Gurantang bukan membantu, bahkan merupakan duri dalam daging. Ketika usaha Gurantang menyelamatkan Tuan Putri hamper berhasil, Cupak yang ternyata menaruh hati kepada Tuan Putri tak segan mencelakakan Gurantang dengan jalan menjatuhkannya kedalam dasar Gua. Daalam situasi seperti ini, peran Amaq dan Inaq Bangkol kembali dihadirkan untuk menyelamatkan sang Panji (Raden Gurantang). Pada akhir cerita dituturkan bahwa kebenaran dan kejujuranlah yang akhirnya memperoleh kemenangan walau terlebih dahulu mesti diuji dengan kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan. Di ujung cerita dikisahkan Cupak mengadu kepada Raja bahwa dialah yang membunuh raksasa itu. Untuk menguji kebenaran ceritanya, Cupak disuruh beradu perise melawan Gurantang. Akhirnya Cupak dapat dikalahkan dan Tuan Putri dikawinkan dengan Gurantang ( Raden Panji).
__________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Cerita Doyan Nede

0 comments
Menurut penuturan naskah Doyan Neda, di Puncak Gunung Rinjani ada seorang raja jin wanita, cucu Nabi Adam yang bernama Dewi Anjani. Dewi Anjani dipesan oleh kakeknya untuk merajai jin di dunia memimpin sekelompok jin bangsawan dan  manusia. Pesan itu kemudian dilaksanakan di mana terlebih dahulu burung sakti milik Dewi Anjani yang bernama Beberi ( Manuk Beriq ) berhasil meratakan gunung-gunung dengan cakar melelanya untuk dijadikan tanah garapan.
Seorang di antara bangsawan  itu bertindak sebagai Penghulu (pimpinan) bergelar ”Penghulu Alim” . Sang Penghulu mempunyai anak laki-laki yang sejak dihamilkan membawa sifat-sifat ajaib. Anak tersebut berada dalam kandungan selama empat tahun dan pada saat baru dilahirkan dia sudah bisa berjalan, fasih berkata-kata, serta lahab menyantap makanan, karena ia sangat kuat makan maka dalam kisah lain dinamakan Doyan Mangan.
Sang Penghulu Alim  merasa malu punya anak seperti itu sehingga berupaya untuk membunuhnya. Berkali-kali telah menyusun dan melakukan upaya pembunuhan atas anaknya, akan tetapi Dewi Anjani yang telah waspada akan hal itu, senantiasa mengirimkan burung Manuk Beriqnya untuk memercikkan  “Banyu urip”, air kehidupan di tubuh  Doyan Nede yang sudah hancur luluh ditimpa kayu atau pun batu,  sehingga Doyan Nede dapat hidup kembali. Kayu dan batu yang sempat menimpa dibawanya pulang. Menurut riwayat, batu yang dipikul oleh Doyan Nede inilah asal nama kerajaan selaparang. Sela artinya Batu, Parang artinya bergerigi, tidak rata.
Dikisahkan kemudian, dengan restu ibunya yang mengasihi Doyan Neda dengan sepenuh hati, berangkatlah Doyan Nede melakukan pengembaraan berbekal sembilan buah ketupat dan pisau kecil ( memaja ). Dalam pengembaraan ini, ia bertemu dengan seorang petapa yang tubuhnya dililit oleh akar pohon beringin. Orang tersebut bertapa karena ingin menjadi raja Lombok sehingga melakukan pertapaan cukup lama. Sang  petapa lalu diselamatkan oleh Doyan Nede dengan mengeluarkannya dari cengkraman akar beringin. Selanjuttnya diangkat sebagai saudara dan diberi julukan ”Tameng Muter”. Pada pengembaraan berikutnya, mereka menjumpai petapa lain  yang dililit suluran rotan. Petapa itu ditolongnya pula, diangkat sebagai saudara dengan julukan ”Sigar Penyalin”. Akhirnya ketiga pemuda berjanji untuk menjadi saudara dan berjuang bersama-sama. Mereka kemudian melanjutkan pengembaraan, menyusuri hutan belabtara.
Dalam kisah pengembaraan ini mereka berhasil mengalahkan raksasa Limandaru, ada yang menyebutnya raksasa Walmunik. Raksasa tersebut pernah menculik tiga orang putri berasal dari pulau Jawa yaitu putri kerajaan  Maja Pahit,  Madura dan Jawa Tengah. Tiga orang putri itu diamankan di sebuah goa bernama goa Sekaroh. Masing-masing bernama Mas Ari Kencana ( Putri Majapahit), Dewi Ni Ketir ( Putri Madura ), dan Dewi Indra Sasih ( putri Jawa Tengah).
Doyan Nede, Tameng Muter dan Sigar Penyalin berhasil mengalahkan raksasa Walmunik lalu mengawini ketiga putri itu. Doyan Nede kawin dengan Mas Ari Kencana, Tameng Muter dengan Dewi Ni Ketir, dan Sigar Penyalin dengan Dewi Indra Sasih.
Tuturan berikutnya mengisahkan tentang kedatangan nakhoda Jawa yang turun untuk mengambil air minum di pulau Lombok. Nakhoda Jawa ini jatuh cinta kepada ketiga putri yang telah berstatus istri. Maka terjadilah  pertempuran, Doyan Nede beserta saudaranya berhasil mengalahkan nakhoda dan anak buahnya. .Seluruh isi kapal milik nakhoda diserahkan kepada Doyan Nede begitu pula anak buahnya untuk dijadikan abdi.
Setelah nakhoda itu mengetahui bahwa putri itu adalah yang sebenarnya putri Majapahit, putri Madura dan Jawa Tengah, maka mereka tunduk mengabdi. Doyan Nede membangun Jero Baru, kemudian diserahkan kepada Tameng Muter. Sedangkan Doyan Nede mencari ayahnya Pengulu Alim di Seleparang, dan di sana ia mendirikan kerajaan Selaparang. Sedangkan Sigar Penyalin diutus untuk membangun kerajaan di daerah utara yaitu di Sembahulun,( Sembalun).
Kisah selanjutnya, Raden Sigar Penyalin melanjutkan pengembangan wilayah samapai ke Pulau Menang ( Bayan ). Di sana ia mendirikan kerajaan Bayan, yang akhirnya kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang pernah hilang di Bilok Petung.
Mengenai kerajaan Pejanggik, dikisahkan bahwa putra Doyan Nede dari perkawinannya dengan Mas Ari Kencana mendirikan kerajaan Pejanggik. Pada awal kisahnya, Dewi Mas Ari Kencana mengidamkan putranya dan saat mengidam ia sangat ingin makan mangga yang bernama Poh Jenggik. Setelah berhasil didapatkan, maka biji Poh Jenggik itu ditanam di sebelah timur Peraya dan inilah cikal bakal kerajaan Pejanggik, Di kemudian hari raja Pejanggik bergelar Dewa Mas Meraja Kusuma.
Mengenai Tameng Muter yang memimpin kerajaan Jero Baru, mempunyai putra yang sangat cerdas dan tampan. Putranya ini kemudian mendirikan kerajaan Langko dengan gelar Pangeran Langkasari. Banyak kalangan yang  sependapat dengan babad ini bahwa inilah cikal bakal berkembangnya kerajaan-kerajaan di pulau Lombok, yaitu generasi penerus pulau ini merupakan keturunan dari orang-orang sakti pada zaman dahulu.
_______________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Babad Selaparang

0 comments
Ringkasan Babad Selaparang

Raja Selaparang, Prabu Kertabumi, mempunyai seorang patih bernama Arya Sudarsana. Patih Arya Sudarsana ini bermukim di Prigi dengan Seratus Kaumnya. Arya Sudarsana yang juga Banjar Getas inilah yang dari awal tutur menjadi biang keladi segala kehebohan.
Di Selaparang, Banjar Getas diusir gara-gara kecemburuan raja. Banjar Getas mengantar persenmbahan perkutut putih mulus ke Selaparang. Ketika itu permaisuri prabu Kertabumi melihat Banjar Getas, lalu terjatuh dari tangga dan pinsan. Terjadilah perkelahian, Banjar Getas melarikan diri ke Brenga lalu ke Pena dan kemudian ke Pejanggik Akhirnya ia dapat mengambil hati Datu Pejanggik yang bergelar Meraja Kusuma, Raja Selaparang yang mengetahui bahwa Datu Pejanggik telah memberikan perlindungan kepada Arya Sudarsana, meminta Datu Pejanggik agar menyerahkan Arya Sudarsana ke Selaparang untuk diadili dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Datu Selaprang mengingatkan Datu Pejanggik bahwa Arya Banjar Getas akan mendatangkan bencana, Datu Pejanggik yang seperti kena guna-guna menyayangi Arya Banjar Getas, Berusaha tetap mempertahankan dan menggantinya dengan mempertasembahkan wanita dan kuda kepada Raja Selaparang. Raja Selaparang tersinggung dan menyesalkan sikap saudaranya di Pejanggik.
Dalam naskah ini dikisahkan pula perkawinan antara Datu Pejanggik dengan Putri Para demung yaitu Rangga Tapon di Bayan, Datu Banua dan Datu Kentawang. Selain itu dalam naskah ini diceritakan juga tentang kejadian salah pilih sewaktu meminang Putri Rangga Tapon. Yang terpilih adalah Putri lurah bernama Lala Dewanti, Putri Rangga Tapon, Dewi Junti akhirnya dikawinkan dengan Banjar Getas. Secara diam-diam Rangga Tapon memendam kekecewaan terhadap kejadian ini.
Rupanya ramalan terhadap Banjar Getas oleh Raja Selaparang ternyata benar. Banjar Getas tidak begitu tulus dalam pengabdiannya terhadap Pejanggik. Dewi Junti (istrinya) sempat pula disia-siakannya sehingga menimbulkan amarah sang  Dewi.
Diceritakan bahwa Banjar Getas dalam suatu kunjungan ke Karang Asem Bali bersepakat dengan temannya yang bernama I Gusti Bagus Alit untuk menggempur Pejanggik. Kemudian peperangan berkecamuk. Adanya perang yang lama dan pasang surut jatuhlah Raja Pejanggik. Raja Pejanggik mengungsi ke Taliwang  Sumbawa.
Sebagai sasaran kedua yang akan diserang oleh persekongkolan antara Banjar Getas dengan I Gusti Bagus Alit adalah Kerajaan Selaparang. Dengan berancang-ancang pada pendirian Kerajaan Karang Asem di Sweta dan Mataram kekuatan untuk meruntukan Selaparang disusun dan diatur dengan seksama. Dalam pertempuran antara Selaparang di babad ini dikisahkan kekacaubalauan tentara Bali yang dikalahkan oleh pasukan menjangan yang terdiri atas sembilan ekor. Pasukan kijang ini sebenarnya sembilan orang wanita  sakti yang dikirim dari Bayan untuk membantu Selaparang.
Pasukan Bali tidak mau menyerah begitu saja, akhirnya dituturkan bahwa meskipun rakyat Selaparang telah bertahan mati-matian dalam keadaan jatuh bangun, sering pula mendapatkan keunggulan atas musuhnya. Namun takdir menetapkan bahwa Selaparang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Selaparang akhirnya tunduk kepada kekuasaan Karang Asem, berkat adanya permainan licik dari Banjar Getas dan atas kelicikannya itu telah menciptakan sebuah legenda.
_________________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Babad Sakra

0 comments
Ringkasan Babad Sakra
 
Babad Sakra yang ditulis oleh Raden Barak dari Desa Kuripan ini memulai tuturnya tentang situasi politik di desa Sakra. Dikisahkan, sebagai akibat berkuasanya Raden Surya Jaya yang sebenarnya belum dianggap tepat, banyak memberikan andil atas kekalahan dan kehancuran desa Sakra. Dalam kemudaannya di bidang usia, ilmu pengetahuan, dan siasat, serta sikap, Raden Surya Jaya telah menyeret Sakra kepada situasi yang begitu rumit dan akhirnya berakibat fatal. Ia kurang mempedulikan nasehat-nasehat para tetua, baik dari pemuka Agama atau para sesepuh yang telah memiliki banyak pengalaman hidup, ilmu kearifan dan ilmu siasat yang tinggi. Berulang kali kemenangan hampir diraihnya, akan tetapi akibat “tingkah kemudaannya” ia telah jatuh  kembali dan mengalami kekalahan.
Pada bagian tengah dari babad ini bertutur mengenai situasi Kerajaan Mataram di Karang Asem Sasak,  seperti yang terdapat pula pada babad Praya.  Bagian ini bercerita tentang perang saudara antar Kerajaan Mataram dengan Karang Asem Sasak. Di bagian ini diceritakan pula tentang latar belakang kehancuran Kerajaan Karang Asem Sasak (Singasari) yang diperintah oleh seorang raja  wanita yang bernama Dewa Cokorda yang  bergelar Dewa Agung. Tingkah laku Dewa Agung yang kurang terpuji karena paham kebebasan sex  (free sex)  yang dianutnya. Ia berpaham bahwa siapa pun bebas melakukan hubungan sex dengan siapa pun. Hal ini  telah menjerumuskan Kerajaan Karang Asem Sasak ini ke jurang kehancurannya. Bermula dari perbuatan adiknya, Ayu Putri yang menikah dengan putra Raja Mataram, akan tetapi ia melakukan penyelewengan dengan Gusti Gde. Hal inilah yang kemudian menjadi puncak kemarahan  Mataram karena Dewa Agung melindungi perbuatan tercela adiknya dan tidak mengizinkan Ida Ratu Mami Ayu Putri untuk menghukum (membunuh) Gde Dangin. Perang saudara pun tak dapat dielakkan lagi antara Singasari dengan Mataram. Dalam peperangan ini ditonjolkan peranan beberapa orang-orang yang dianggap pahlawan, seperti  Gde Bonaha Mumbul, Neneq laki Batu dan Neneq Laki Galiran (dua bersaudara dari Kuripan), Gusti Gde Wanasari,dan anak Agung Ketut Karang. Namun Laki Batu kemudian membuat gara-gara sampai menimbulkan perang dengan Pagutan. Pada saat itu Mataram telah memperoleh kemenangan. Pagutan yang dahulunya pernah membantu Mataram dihancur leburkan oleh Mataram hanya karena masalah Wanita (perkawinan yang gagal).
Melalui tutur yang berliku-liku dan panjang, akhirnya Babad Sakra sampai pada kisah pertempuran besar-besaran (pemberontakan) Sasak terhadap kerajaan Mataram Lombok. Tutur babad Sakra pada bagian yang disebut terakhir ini terdapat pula pada babad Praya dengan ulasan yang meskipun berbeda versinya, akan tetapi pokok isinya sama.
_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

Silsilah Batu Dendeng

0 comments

Silsilah ini diawali dengan kisah Datu (Raja) Sempopo yang belum mengenal hukum agama, khususnya dalam hal perkawinan. Karena ketidaktahuannya terhadap hukum tersebut ia mengawini saudaranya sendiri, neneknya, dan lain-lain. Sebagai akibat dari perbuatannya itu ia mendapat kutukan Yang Mahakuasa yakni meluapnya air laut di Pena (daerah yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Praya Timur). Luapan air laut tersebut menenggelamkan daerah Sempopo beserta beberapa daerah lainnya seperti Pejanggik,  bahkan terus ke barat  yakni di Gunung Tela.
Setelah kejadian tersebut kemudian disusul dengan adanya usaha-usaha dari para penguasa setempat untuk melepaskan diri dari kerajaan. Hal ini mengakibatkan adanya  daerah-daerah kekuasaan baru dengan rumpun-rumpun keluarga raja yang baru pula. Sebagai contoh, Raja Kedaro yang dikenal juga dengan nama Panjisari Kedaro pindah ke Tendaun. Ia mempunyai seorang putera bernama Tumenggung Re yang kelak berkuasa di Kentawang. Hal serupa juga dilakukan oleh rumpun-rumpun kedatuan (keluaga raja) yang lain, seperti Harya Lesong anak Demung Batu Dendeng dengan daerah kekuasaannya  di Lesong.dan Masrum yang pindah ke Padamara, Den Gunaksa ke Penunjak, Den Jae yang berkuasa di Pujut bersama dengan yang lainnya. Mereka berada dalam serumpun dialek  yaitu dialek Bahasa “ Hiku Hiyak ”.
Silsilah ini bertutur  pula tentang masuknya Bangsa Jawa yang mengalahkan penduduk pribumi. Beberapa penduduk di antara penduduk pribumi yang kalah ditawan ke Jawa, yakni di Kerajaan Busingcili. Akan tetapi nakhoda Lewin dari tanah Pesisir yang beristri seorang Bangsawan Sasak dari keluarga Batu Dendeng telah berhasil menyelamatkan mereka.
Pada bagian tutur mengenai Kuripan disebutkan tentang adanya seseorang yang sakti bernama Ki Rangga yang telah membuat heboh di Kuripan.   Ki Rangga yang sangat sakti ini tidak dapat ditaklukkan meskipun dengan bantuan Pujangga Pejanggik. Namun pada akhirnya Ki Rangga dapat dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Hama Kuwi. Ki Rangga masih dapat melarikan diri ke Tabuak. Baru di Tabuak inilah Ki Rangga dapat benar-benar dikalahkan oleh dua orang jagoan dari Batu Dendeng bernama Neq Dipati dan Arya Pati. Sekarang di Tabuak terdapat sebuah Bukit bernama Bukit Tirangga yang kemungkinan besar berasal dari nama Ki Rangga dalam kisah tersebut.
______________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

Dongeng Sasak BALANG KESIMBAR

0 comments
            Pada zaman dahulu hiduplah seorang kakek bersama seorang cucunya yang bernama Balang Kesimbar. Mereka tinggal di sebuah kampung yang bernama Penydul. Kampung itu termasuk ke dalam desa Rembitan, Kecamatan Pujut. Kedua orang tua Balang Kesimbar telah lama meninggal dunia. Karena itu ia pun tinggal bersama kakeknya. Mereka hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Untuk menjamin kelangsungan hidupnya mereka bekerja sebagai penggarap tanah. Di samping itu mereka pun menanami tanah pekarangan mereka dengan berbagai jenis sayur untuk menambah penghasilan. Walaupun mereka hidup dalam keadaan serba kurang, pendidikan Balang Kesimbar tidak pernah sia-sia, ia langsung menerima pendidikan dari kakeknya, disamping dari seorang guru yang memberikan berbagai jenis pengetahuan yang diperlukan di dalam kehidupan.
Setelah Balang Kesimbar berusia remaja ia dapat bergaul di tengah masyarakat dengan baik, disebabkan asuhan dan pendidikan yang telah diterimanya. Ia selalu menghargai orang-orang tua di desa itu. Dan ia pun disegani pemuda-pemuda yang lain.
Pada suatu malam Balang Kesimbar mendengar berita dari teman-temannya bahwa di istana sedang diselenggarakan pertunjukan wayang kulit. Dalang yang tampil malam itu adalah dalang yang sangat terkenal. Lagi pula ceritranya yang akan dibawakan adalah ceritra yang sangat bagus.
“Jadi, baiklah. Sehabis sembahyang isya kita berangkat bersama ke tempat pertunjukan”, kata kawan-kawannya.
“Baiklah, aku memang sangat ingin menonton wayang. Tetapi berangkatlah kalian lebih dahulu. Aku akan menyelesaikan kebutuhan kakekku. Setelah itu barulah aku datang”.
Setelah itu Balang Kesimbar segera pulang untuk mempersiapkan kebutuhan kakeknya. Dengan cepat ia menyediakan air, menanak nasi dan mempersiapkan tempat tidur. Setelah semua siap ia pun meminta izin kepada kakeknya.
“Kek, Izinkanlah aku menonton wayang di istana. Kata kawan-kawan dalangnya amat terkenal dan akan melakonkan ceritra yang amat baik. Telah lama aku tak pernah menonton wayang. Inilah kesempatan baik bagiku untuk menontonnya”.
“Baiklah, cucuku. Berangkatlah ke tempat pertunjukan itu. Tetapi jagalah dirimu baik-baik. Jangan sampai terlibat kalau terjadi sesuatu kegaduhan ataupun yang lain-lain”.
Setelah memperoleh izin Balang Kesimbar segera berangkat ke tempat pertunjukan. Tetapi ia datang terlambat. Pintu gerbang telah ditutup karena penonton penuh sesak. Barang Kesimbar berusaha mencari jalan masuk lain tetapi tak berhasil, karena pintu masuk hanya satu. Barang Kesimbarpun berteriak-teriak mengitari tembok. Tetapi tak seorangpun mendengar teriakannya. Semua orang sedang asyik menonton. Harapan untuk masuk telah hilang baginya. Karena itu ia pun duduk di depan pintu gerbang untuk meluangkan waktunya. Di tempat itu juga banyak orang lalu-lalang. Melihat di dekatnya terdapat sepotong arang, Balang Kesimbarpun mengambilnya. Ia pun mulai menggoreskan arang itu di tembok dekat gerbang. Setelah puas ia segera pulang.
Malam larut ketika Balang Kesimbar tiba di rumah. Kakeknya pun belum tidur. Sang kakek merasa bingung mengapa secepat itu cucunya pulang. Tetapi setelah Balang Kesimbar menceritakan sebab-sebabnya, kakeknya pun merasa puas dan segera mengajak Balang Kesimbar untuk tidur, agar badan tetap segar dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Menjelang pagi ketika pertunjukan selesai, maka para penjaga kebersihan istana pun mulai melakukan tugasnya. Sampah berserakan karena penonton amat ramai. Dan pedagang makanan amat banyak. Ketika tiba di pintu gerbang, petugas istana sangat terkejut. Ia terkejut melihat coretan pada tembok pintu. Setelah diamati ternyata coretan itu berbentuk seekor harimau yang amat ganas, dan bermata tujuh buah. Dua buah terdapat di kepala seperti lazimnya. Dua buah terdapat pada kedua sisi pinggang. Dua buah lainnya terdapat pada pantat, sedang sebuah lagi terdapat pada ekor. Melihat hal itu ia berfikir dalam hati.
“Siapa gerangan berani menggambar pada tembok ini. Benar gambarnya bagus, tetapi kalau diketahui oleh baginda raja, pasti beliau akan murka. Dari pada kena marah sendiri, lebih baik kulaporkan hal ini”.
Setelah berfikir demikian, iapun menghadap dan melaporkan apa yang dilihatnya.
“Ampun tuanku. Hamba hendak menceritakan suatu hal”.
“Tentang apa”?, tanya raja
“Ampun tuanku. Di tembok pintu gerbang terdapat sebuah gambar harimau yang sangat menyeramkan. Agar hamba tidak hilap, hamba persilahkan tuanku menyaksikan sendiri benda itu”.
Mendengar laporan itu, dengan seketika raja berangkat untuk membuktikannya. Setelah tanpak olehnya gambar itu rajapun berkata :
“Siap yang melakukan perbuatan ini. Tidakkah ia tahu terlarang mencoreng tembok ini? Benar gambar ituhebat sekali. Siapa yang menggambar harimau ini harus bertanggung jawab. Ia harus mencari harimau seperti yang terlihat pada gambar itu. Hari mau bermata tujuh. Bila gagal nyawalah sebagai pengganti. Kini kuperintahkan untuk mencari yang melakukan perbuatan ini sampai dapat”.
Sesungguhnya raja sangat kagum akan kebagusan gambar itu. Ketika melihatnya untuk pertama kali raja terkejut dan hampir lari. Tampaknya garam seperti harimau sesungguhnya.
Menerima perintah langsung dari raja, tugas itupun mengumpulkan seluruh rakyat kemudian ditanya satu persatu untuk mengetahui siapa yang melakukan perbuatan yang memurkakan raja. Setelah kebanyakan menyatakan tidak tahu, muncullah seorang yang memberikan laporan bahwa tadi malam Balang Kesimbar tampak tidak nonton. Mungkin dialah yang melakukan perbuatan itu. Tetapi umurnya masihsangat muda. Mustahil memiliki kecakapan seperti itu. Tetapi walaupun demikian raja memerintahkan memanggilnya untuk dimintai keterangan. Karena itu seorang petugas berangkat memanggil Balang Kesimbar.
“Hae Balang Kesimbar. Saat ini juga kau harus menghadap ke istana. Raja kita hendak menanyakan sesuatu kepadamu”.
“Baik”. Kata Balang Kesimbar seraya bersiap dan berangkat menuju istana. Setiba di istana Balang Kesimbar melihat banyak orang. Ia bertanya dalam hati.
“Ada apa gerangan ?” Setelah itu ia ditanya langsung oleh raja
“Siapakah kamu ini anak muda ?”
“Hamba bernama Balang Kesimbar tuanku”.
“Apakah kau yang menggambar di tembok gerbang itu?”, tanya raja.
“Benar tuanku. Hambalah yang menggambar harimau itu”, jawab Balang Kesimbar dengan tenang.
“Apa sebab kau begitu berani menggambar di tempat itu? Bukankah itu tembok gerbang istana?. Tidakkah kau mengetahui bahwa terlarang untuk mencoreng-coreng tembok istana? Tetapi karena kau telah mengakui perbuatanmu, sekarang kau akan tugaskan mencari seekor harimau seperti yang telah kau gambar.
Harimau garang dengan mata tujuh buah. Ingatlah kalau kau gagal nywamulah jadi penggatinya. Nah, berangkatlah”.
Balang Kesimbar segera kembali ke rumahnya. Tak henti-hentinya ia berfikir. Bagaimana mungkin ia berhasil mencari binatang seperti yang telah ada digambarnya. Setelah tiba di rumah, Balang Kesimbar menceritakan hal itu kepada kakeknya. Ia pun meminta nasehat untuk mengatasi beban yang ditimpakan kepadanya.
“Cucuku, Balang Kesimbar. Semua tugas yang dibebankan raja kepadamu, haruslah kau laksanakan sebaik-baiknya. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun sulitnya. Kita harus menunjukkan kesetiaan kepada raja yang kita cintai. Akupun tak mengetahui di tempat mana harimau semacam itu dapat kia ditemukan. Mungkin sekali harimau semacam itu tidak pernah ada. Kalaupun ada pasti sangat sulitlah untukmenangkapnya. Tentu janganlah kau berputus asa. Berangkatlah besok pagi. Kakek akan tetap mendoakan agar usahamu dapat bersasil. Segala keperluan perjalanan akan kupersiapkan malam ini juga. Kini beristirahatlah dengan tenang”.
Keesokan harinya ketika pajar mulai menyingsing, Balang Kesimbar dibangunkan oleh kakeknya. Setelah memohon restu kepada orang tua itu, Balang Kesimbarpun turun dari rumah dan memulai pengembaraan untuk menyelesaikan tugas yang amat berat. Setelah lama dalam perjalanan yang berat, memasuki dan meninggalkan hutan dengan berbagai rintangan, menuruni lembah dan mendaki tebing, haus dan dahaga yang amat menyiksa, maka tibalah Balang Kesimbar pada sebuah padang yang amat luas. Padang itu dipenuhi lipan yang amat berbisa. Ia pun bertanya dalam hati.
“Bagaimana mungkin aku akan berhasil menyebrangi padang seluas ini?.
Kalau aku melintasinya juga pasti badanku akan binasa. Jalan lain tak ada lagi di kiri kanan ku terdapat sungai yang amat dalam. Apa akalku sekarang?”.
Dalam keadaan yang sulit itu ia teringat kepada bekal yang dipersiapkan kakeknya. Bekal itu dibungkus dengan seludang daun pinang yang telah dihaluskan dan diikat dengan benang peninggalan ibu Balang Kesimbar. Dalam bungkus makanan itulah tersimpan kekuatan ghaib yang dapat menolong Balang Kesimbar mengatasi berbagai kesulitan. Dalam mengatasi kesulitan ini Balang Kesimbar memanfaatkan bungkusan itu. Setelah memusatkan cipta sejenak, bungkusan itu dilemparkan sekuat tenaga. Kemudian ia menggantung diri pada benang pengikatnya. Dengan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa Balang Kesimbarpun terangkat ke atas, menggelantung di angkasa sehingga berhasil menyebrangi padang yang berbahaya itu dengan selamat.
Perjalanan dilanjutkan lagi. Ia tidur di mana saja kemalaman. Dan makan sehemat mungkin untuk mencegah kehabisan bekal dalam pengembaraan yang tidak menentu ini.S Setelah berjalan beberapa lagi tibalah Balang Kesimbar pada sebuah padang yang lain. Padang itu dipenuhi dengan kalajengking yang amat berbisa dan tak terbilang banyaknya. Balang Kesimbar merasa ngeri menyaksikan.
“Apa akal”, pikirnya.
Saat inipun Balang Kesimbar mempergunakan bungkusan yang di bawanya. Sambil memohon dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bungkusan itu dilemparkan setinggi-tingginya ke udara sambil memegang benang pengikatnya denganh kuat. Dan ia pun berhasil meliwati padang kalajengking itu dengan selamat.
Balang Kesimbarpun melanjutkan perjalanan yang berat ini. Semua rintangan dihadapinya dengan sabar dan tabah disertai keyakinan akan hasil perjalanan ini. Beberapa lama kemudian kembalilah Balang Kesimbar berada di tepi sebuah padang. Padang itu dipenuhi dengan ular berbisa. Semua jenis ular berbisa terdapat di dalamnya. Untuk mengatasi kesulitan baru ini, Balang Kesimbar pun melakukan perbuatan seperti yang pernah dilakukannya. Dan ia pun berhasil lolos dari mara bahaya.
Rintangan demi rintangan dilaluinya dengan baik. Bahaya demi bahaya dapat diatasinya dengan selamat. Tetapi, rintangan dan bahaya masih belum habis juga. Dalam perjalanan selanjutnya ia melihat seorang raksasa yang amat besar. Tatapi untunglah raksasa itu sedang tidur dengan pulasnya. Dan Balang Kesimbarpun berkata dalam hati.
“Untunglah raksasa itu sedang tidur. Kalau tidak pasti aku binasa karenanya. Tampaknya sangat mengerikan”.
Untuk mengatasi kesulitan itu Balang Kesimbar kembali pergunakan bungkusan tadi dan berhasil dengan selamat. Ia telah melewati raksasa itu dengan aman.
Dan Balang Kesimbar pun melanjutkan perjalanan dengan cepat. Kekhawatiran masih saja melintas dalam hatinya. Ia khawatir kalau raksasa yang tengah tidur itu tiba-tiba terjaga dan mencium bau badannya. Tetapi akhirnya Balang Kesimbar tiba pada sebuah padang yang sangat kering. Rumputpun tak dapat tumbuh di atasnya. Panasnya tak terkatakan lagi. Tanahnya terdiri dari tanah sari yang sangat gembur. Padang ini harus disebrangi. Terasa keraguan dalam hati Balang Kesimbar. Terselip juga niat untuk kembali. Tetapi perjalanan sudah amat jauh. Betapapun padang ini harus disebrangi. Setelah membulatkan tekat dan memohon keselamatan Balang Kesimbar pun mulai melangkahkan kakinya memasuki padang itu. Setelah berjalan beberapa langkah, kakinya tenggelam ke dalam tanah, hingga ke lutut. Panasnya tak terkatakan lagi. Tetapi karena tekad telah membaja, Balang Kesimbar tak mundur walau selangkah.Dengan susah payah ia tetap melangkah maju. Kini badannya mulai tenggelam ke dalam panas itu. Tanah telah mencapai pingan. Tetapi ia tetap berusaha untuk maju. Dan ia tenggelam makin jauh. Akhirnya tanah telah mencapai batas leher. Kini ia hampir tak sadarkan diri.
Pada saat yang paling keritis ini, tiba-tiba angin puyuh dahsyat melanda padang itu. Semua yang berada di dalamnya diterbangkan. Demikian pula Balang Kesimbar tak luput dari sasaran angin puyuh itu. Ia diterbangkan entah kemana. Tiba-tiba ia meluncur jatuh dan berada di atas sebatang pohon sawo. Ketika membuka mata ia merasa heran. Dan sadarlah ia akan apa yang telah terjadi. Kemudian ia memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kini ia sadar bahwa perjalanannya selalu mendapat perlindungan. Karena merasa sangat payah, ia pun beistirahat di atas pohon itu.
Beberapa saat kemudian tatkala Balang Kesimbar terbangun ia mendengar suatu suara.
“Suara apakah itu?”, tanyanya dalam hati. “Ada jugakah manusia lain di tengah hutan belantara ini?”. Ia mencari arah suara itu. Ia memasang telinga dengan baik. Benar. Ia mendengar suatu suara. Sumbernya tak jauh dari tempat itu. Setelah diperhatikan dengan seksama jelaslah baginya suara itu suara alat tenun. Ketika pandangannya terarah ke bawah pohon sawo, ia melihat seseorang.
“Siapakah berada di bawah? Jin atau manusia?”, tanya Balang Kesimbar di dalam hati. Ia berusaha menenangkan jiwanya. Setelah beberapa saat berlalu, ia kembali memperhatikan apa yang telah dilihatnya tadi. Apa yang dilihatnya ternyata tak berubah. Seorang wanita yang tengah menenun. Karenba asyik dalam pekerjaan, ia tidak mengetahui seseorang berada di atasnya. Balang Kesimbar mengambil sebiji buah sawo yang kecil. Ia berniat mengganggu wanita itu. Ia ingin membuat wanita itu terkejut. Lalu dilemparkannya buah sawo itu kearah wanita itu. Tetapi tidak mengenai sasaran. Buah itu terjatuh di depan wanita itu. Lalu Balang Kesimbar mengambil buah yang kedua. Buah itupun dilemparkan. Tetapi tidak mengenai sasaran lagi. Buah terjatuh disamping wanita itu. Dengan tidak merasa curiga, wanita itu memandang buah sawo yang jatuh itu. Buah yang ketiga diambil oleh Balang Kesimbar, dan kembali dilemparkan kepada wanita itu. Tetapi masih juga gagal. Buah itu jatuh disamping kanan. Bersamaan dengan itu wanita itu memandang ke atas. Ia amat terkejut melihat seorang pemuda berada di atasnya. Berbagai pikiran berkecambuk di dalam hatinya. Dengan cepat ia berkata.
“Hai lelaki, cepatlah turun sebelum kakekku kembali. Kalau ia mengetahui ada manusia lain di tempat ini, pasti musnah dimakannya. Ketahuilah kakekku adalah seorang raksasa”.
Mendengar kata-kata itu Balang Kesimbar turun dengan segera.
“Pastilah raksasa itu yang telah kujumpai dalam perjalanan bisik hatinya.
Setelah saling sapa dan berkenalan, Balang Kesimbarpun menceritakan kisahnya dari awal hingga berada di atas pohon sawo itu. Setelah itu, wanita tadi yang ternyata seorang putri, menyuruh Balang Kesimbar agar menyiram tubuhnya dengan air jeruk, untuk mengurangi bau. Setelah itu, Balang Kesimbar dimasukkan ke dalam sebuah peti. Tak lama kemudian raksasa itu pun datang. Segera setelah kembali, ia merasa bahwa seorang manusia lain berada di tempat itu.
“Cucuku, aku mencium bau manusia lain di tempat ini. Aku sungguh gembira dengan tak bersusah payah, santapan telah berada diujung hidung”.
“Kek, yang kakek cium itu adalah bauku. Kalau berniat menytantapku, santaplah sekarang juga”.
“O, tidak. Aku tak akan tega memakan dagingmu. Kau sangat kusayangi. Sukar mencari cucu secantik kau. Nah, sekarang cobalah katakan apa keinginanmu. Aakan kucarikan secepatnya”.
“Terima kasih, kek. Carikanlah aku buah-buahan yang masih segar. Aku sangat ingin memakannya”.
Dengan singkat diceritakan raksasa itu pun terbang ke suatu tempat yang ditumbuhi berbagai jenis buah-buahan. Tak lama kemudian ia pun telah kembali dengan membawa berbagai jenis buah-buahan, berupa buah manggis, salak, durian, duku, dan lain-lain.
“Nah, sekarang apalagi yang kau ingini cucuku?”.
“Kek, kalau benar kakek sayang padaku, carikanlah aku daging rusa yang segar. Aku sangat ingin menikmatinya. Maukah kakek?”.
“Tentu, tentu. Sekarang juga akan kucarikan. Daging rusa bukanlah daging yang sukar diperoleh. Sebentar lagi pasti aku telah datang membawanya”. Dan raksasa itu pun berangkatlah.
Segera setelah raksasa itu berangkat, Balang Kesimbar pun dikeluarkan dari dalam peti. Dan disuguhi hidangan secukupnya. Kemudian ia dimandikan dengan air jeruk. Setelah itu kembali di masikkan ke dalam tempat semula.
Tak lama kemudian raksasa itu telah kembali.
“Ha, cucuku. Pasti ada manusia lain di tempat ini. Sedap benar baunya. Kini aku akan dapat menyantap daging manusia lagi”.
“Bukan, Kakek. Yang kakek cium itu pastilah bauku sendiri. Bila kakek berniat menyantapku, santaplah”.
“O, tidak. Sedikitpun tak ada niatku untuk memakanmu. Aku tidak gila memakan cucuku sendiri. Apalagi kau cantik sekali dan amat kusayangi. Tetapi apakah yang kau ingini lagi? Katakanlah cucuku”.
“Ah, kakek, terlalu baik hati. Kakek telah terlalu payah. Lebih baik kakek beristirahat terlebih dahulu. Bukankah makanan masih cukup banyak. Bagaimana kalau aku mencari kutumu, kek. Bukankah telah lama aku tak pernah mencarinya. Barangkali jumlahnya terlalu banyak”.
“Baik, cucuku. Benar katamu. Kutuku pasti telah banyak”.
Demikianlah ia pun mulai mencari kutu di kepala raksasa itu. Raksasa itu pun merasa senang dan nyaman.
“Kek, kutu kakek bukan main besarnya. Sungguh luar biasa. Mengapa dibiarkan saja, kek?”
“Ah, cucuku. Kutu itu memiliki suatu rahasia. Tak seorangpun boleh mengetahuinya. Kalau rahasia ini bocor, pastilah kakek akan binasa”.
“Sungguh anaeh. Mengapa demikian, kek?”, tanya putri itu.
“Nah, dengarkanlah, kata raksasa itu kemudian. “Semua yang berada di kepalaku ini, jika dilepaskan dapat berubah menjadi semacam panah. Kutu yang besar itu, jika dilepas dapat menjadi panah batu. Rambutku yang putih bisa berubah menjadi panah apa saja yang diingini. Sedangkan ketobeku bisa berubah menjadi panah kabut”.
Setelah mendengar keterangan raksasa itu, ia pun melanjutkan pekerjaannya, mencari kutu seperti biasa. Tetapi secara diam-diam ia menyembunyikan kutu, rambut dan ketombe sang raksasa pada sebuah kantung.
“Kek, aku ingin benar memiliki seekor harimau bermata tujuh. Keinginan itu telah lama terpendam dalam hatiku. Sekarang keinginan itu tak terkatakan lagi besarnya. Kek, tangkaplah aku”.
Mendengar keinginan itu sang raksasa terkejut.
“Cucuku, harimau yang kau inginkan itu sangat sulit untuk diperoleh. Kalu toh aku bisa menemukannya, maka untuk menangkapnya pasti sangat sulit. Menurut dugaanku harimau seperti itu mungkin terdapat di hutan belongas atau pengantap. Tetapi lebih baik kalau kau meminta benda yang lain.
“Tidak kek. Aku tidak ingin benda lain. Aku hanya menginginkan harimau bermata tujuh. Kalau kakek tidak bisa mencarikan lebih kalau aku mati. Biarlah aku mati karenanya. Sekarang juga”.
“Jangan cucuku. Kau tidak perlu senekat itu. Sekarang juga aku akan berangkat mencarinya”.
Maka terbanglah raksasa itu menuju hutan Belongas. Ia terbang tinggi sekali. Matanya memandang dengan tajam ke bawah dan mengamati dengan cermat. Tak berapa lama ia melihat sekelompok harimau yang sedang beristirahat. Ditengah-tengah kelompok itu tampak seekor bermata tujuh. Dengan hati-hati serta kekuatan dan kecepatan luar biasa raksasa itu menukik ke bawah. Dengan cepat disergapnya harimau itu. Ia berhasil dengan baik. Walaupun harimau itu mengadakan perlawanan, tetapi tak berarti bagi raksasa itu. Harimau itu cepat kilat diterbangkan ke angkasa dan menuju rumahnya. Setelah tiba harimau itu diikat dan ditambatkan pada batang pohon sawo disamping rumahnya.
“Hai cucuku, aku telah berhasil memenuhi permintaanmu sebagi tanda kasih sayangku. Aku telah berhasil memperoleh seekor harimau yang bermata tujuh. Binatang itu telah kutambatkan di sebelah rumah. Dan kini bergembiralah engkau”.
“O, terima kasih kek. Telah lama aku menginginkan harimau semacam itu.
Aku sangat bergembira dengan pemberian ini. Tetapi…”
“Apa lagi cucuku. Masih adakah keinginanmu yang belum kupenuhi. Katakanlah sekarang juga. Kakek akan segera mencarinya.
Nah, kalau demikian kek, aku punya satu keinginan lagi. Kalau kakek dapat penuhi aku sangat bahagia”.
“Nah, katakanlah segera cucuku”.
“Carikanlah aku permata yang indah-indah kek. Intan, berlian atau permata apa saja yang indah. Pendeknya asal permata yang baik”.
“Ha, kalau permata semacam itu yang kau kehendaki, mudah bagiku. Mengapa tak kau katakan sejak dulu. Sekarang juga aku akan berangkat agar segera dapat kembali”.
Maka terbanglah raksasa itu untuk mencari permata yang dikehendaki cucunya. Sesungguhnya bagi seorang raksasa, mencari permata lebih sulit baginya dari pada mencari benda-benda yang lain, karena harus membongkar tanah, menyelam di sungai dan sebagainya. Karena itu untuk mencari permata ia harus mempergunakan waktu lebih lama lagi.
Segera setelah raksasa itu berangkat, ia mengeluarkan Balang Kesimbar dalam persembunyannya.
“Balang Kesimbar, bagaimana pendapatmu kalau sekarang juga kita melarikan diri. Kukira inilah saat yang paling tepat bagi kita saat-saat lain sulit diperoleh.
“Apa yang bagi tuan putri akan kuturut saja”, jawab Balang Kesimbar.
“Baiklah. Sekarang juga kita berangkat. Mari kita mempersiapkan diri”.
Balang Kesimbar dan putri itupun segera mempersiapkan diri. Harimau yang bermata tujuh yang terikat di batang sawo, segera diberi pelana. Senjatapun telah dipersiapkan. Balang Kesimbar naik di atas punggung harimau itu, kemudian disusul oleh tuan putri. Setelah itu harimau pun dipacu secepat-cepatnya. Larinya secepat kilat. Tampaknya bagaikan terbang. Mereka telah lepas meninggalkan rumah raksasa itu.
Bersamaan dengan itu, raksasa yang mencari permata itu pun merasakan suatu firasat. Ia merasakan bahwa  ada sesuatu terjadi di rumahnya. Karena itu ia segera pulang. Setelah tiba raksasa itu langsung berseru.
“Wahai cucuku. Dimana kau berada. Cucuku,cucuku !” Suasana tetap sepi.
Tak ada suatu jawaban yang tersengar. Raksasa itu langsung memasuki rumah. Semua sudut diteliti dengan cermat. Tentu saja ia tak menemukan seseorang.
“Apakah cucuku telah melarikan diri ?”, pikirnya. Kemudian ia pergi ke bawah pohon sawo, untuk melihat apakah harimau kesayangan cucunya berada di kandang atau tidak. Raksasa itu sangat terkejut ketika ia tahu harimau itu tak berada di tempatnya. Ia kini yakin cucunya pasti melarikan diri, dengan menunggang harimau itu.
“Baiklah. Ia akan segera kususul. Pasti ia belum berada jauh. Ia segera akan kutangkap”.
Dengan sekuat tenaga ia melompat ke angkasa. Tak berapa lama sesudah itu ia menampak sesuatu titik bergerak dengan cepat.
“Mungkin itulah cucuku”, pikirnya. Ia pun mempercepat terbangnya, dan hampir berhasil menysul cucunya. Melihat hal itu timbullah kekhawatiran yang sangat dalam di hati tuan putri.
“Balang Kesimbar. Lihatlah raksasa itu hampir dapat menyusul kita. Bila ia berhasil menyusun kita, pastilah kita binasa dibuatnya. Apa yang kita lakukan sekarang?”.
Pergunakanlah senjata itu untuk membunuhnya. Apa boleh buat. Demi keselamatan kita berdua”.
Dengan tangkas putri itupun mempergunakan senjata simpanannya. Ia menghantam raksasa itu, sehingga gerakannya terhalang. Tetapi raksasa itu berusaha terus untuk maju. Dan pada hantaman berikutnya akhirnya raksasa itu roboh di tengah padang dan tidak bernapas lagi.
“Kek, Apa boleh buat”,kata putri itu dengan sedih sambil memandang bangkai raksasa itu.
Setelah itu Balang Kesimbar dan putri itu meninggalkan tempat kejadian dan kembali ke rumah kakeknya. Setelah tiba Balang Kesimbar menjadi kecewa dan amat sedih, karena kakeknya telah meningal dunia. Dalam keadaan duka, Balang Kesimbar menghadap raja untuk mempersembahkan harimau bermata tujuh yang menjadi tuntutan raja. Melihat keberhasilan Balang Kesimbar, raja sangat gembira dan kagum. Rajapun memberikan hadiah-hadiah kepada Balang Kesimbar.
Beberapa hari kemudia, seorang pesuruh istana mengetahui kalau Balang Kesimbar mempunyai seorang isteri yang amat cantik. Dan isterinya itu adalah seorang tuan putri. Dengan rasa dengki dan iri hati pesuruh istana itu pun mengadukan kepada raja.
“Tuanku, dengan hormat hamba melaporkan bahwa Balang Kesimbar memiliki seorang isteri yang amat cantk. Lebih dari itu isterinya itu adalah seorang putri. Sulit kita bisa menemukan seorang wanita secantik itu. Menurut perasaan hamba tak pantas samna sekali Balang Kesimbar memiliki isteri seperti itu. Seharusnya tuankulah yang paling berhak memilikinya”.
“Bila demikian halnya, aturlah suatu siasat untuk melenyapkan Balang Kesimbar”,katanya.
Maka diaturlah suatu siasat untuk membunuhnya. Ia akan diperintahkan untuk memperdalam sumur yang telah dalam. Bila Balang Kesimbar berada di dalamnya, maka sumur itu bermai-ramai akan dijatuhi batu. Pastilah Balang akan mati di dalamnya. Bila siasat itu gagal, Balang Kesimbar akan diperintahkan memanjat pohon kelapa yang amat tinggi. Setelah berada di puncak pohon, orang banyak akan menebang pohon kelapa tersebut dan pastilah Balang Kesimbar akan mati.
Tetapi, semua rencana busuk itu tercium oleh Balang Kesimbar. Berkat kesaktian dan kepintaran isterinya. Balang Kesimbar dapat lolos dari rncana busuk itu. Ia membuat boneka dari tepung beras. Boneka itu dihidupkan kemudian kemudian dipergunakan untk menggatikan Balang Kesimbar mengerjakan perintah raja. Dengan jalan itu Balang Kesimbar luput dari bahaya maut.
Mendengar hal itu tentu saja raja sangat kecewa. Karena niatnya untuk memiliki isteri Balang Kesimbar menjadi terhalang. Tetapi, raja tidak berputus asa. Niat untuk menyingkirkan Balang Kesimbar tetap menyala dalam hatinya. Raja memerintahkan untuk menguji warna darah Balang Kesimbar. Apabila ternyata Balang Kesimbar berdarah merah, maka ia akan di bunuh. Tetapi, apabila ia berdarah putih maka dia berhak menjadi raja.
Dalam peristiwa ini pun isteri Balang Kesimbar berusaha untuk menyelamatkan suaminya. Sebelum pelaksanaan pemeriksaan darah dijalankan, Balang Kesimbar disuruh meminum santan kelapa sebanyak mungkin. Dan perbuatan ini menyebabkan ketika pemeriksaan tiba, ternyata darah yang keluar dari tubuh Balang Kesimbar tampak berwarna putih.
Dengan peristiwa itu, Balang Kesimbar berhak menjadi raja menggatikan raja yang zalim itu. Rakyat dengan gembira menyambut upacara penobatannya menjadi raja. Mereka menyelenggarakan pesta empat puluh hari empat puluh malam. Dengan demikian, Balang Kesimbar mulai memerintah kerajaan dengan aman dan sentosa, dan didampingi oleh permaisuri yang memang berasal dari putri. Dengan demikian rakyat hidup dengan rukun dan damai dan negeri menjadi aman dan makmur.
_____________________________
Diambil dan di terjemahkan dari ceritra rakyat bahasa sasak dialek Keno-Meno.
========================================================================
read more

Monday, April 22, 2013

Si Kuat Medaran ( Si Kuat Makan )

0 comments
Pada zaman dahulu di daerah Lombok selatan pesisir pantai takar-akar tinggallah seorang kyai beserta seorang istrinya. Sang suami namanya Penghulu Alim, dia dipanggil Pengghulu Alim karna dia adalah seorang kyai dan sering diundang  dalam acara kawinan sekaligus menjadi penghulunya. Pada suatu hari, penghulu alim diundang keacara kawinan, dan pada saat itu istrinya sedang dalam keadaan hamil, penghulu alim akan pergi beberapa bulan sehingga sebelum berangkat, sang penghulu alim menyerahkan seutas sabuk dan selendang kepada istrinya seraya berkata " istriku,,, nanti kalau anak kita lahir dan sudah mampu berjalan suruhlah untuk mencariku ditempat acara kawinan itu, dan ikatkan sabuk dan selendang itu sebagai pakaiannya agar aku dapat mengenalinya". istrinya dengan penuh kelembutan pun menjawab " baiklah kakak" seraya menyiapkan perbekalan untuk suaminya sang penghulu alim

Sepergian suaminya Penghulu Alim, lahirlah Si Kuat Makan (Si Kuat Medaran) dan dirawat oleh sang ibunya seorang. Ketika si kuat medaran sudah menginjak beberapa bulan dia sudah mampu berjalan dengan lincahnya. Namun selama kelahiran dia belum tau siapa dan dimana ayahnya. Akhirnya si kuat medaran  pun bertanya pada ibunya.

    "ibu… dimanakah ayahku?. Kata Si Kuat Medaran kepada ibunya.
    Ibunya menjawab; ayahmu diundang ke acara kawinan daerah sebelah, anakku…!
    "tapi kenapa sampai sekarang belum juga pulang.. Bu?  . Kata si kuat medaran lagi kepada ibunya.
Sambil mengelus anaknya ibunya pun menjawab,"mungkin ayahmu sibuk disana, karna banyak undang yang harus dipenuhi, kalau kau mau melihat ayahmu maukah kamu menyusulnya anakku..!. kata ibunya seraya menatap Si Kuat Medaran.
"Mau ibu, tapi dimanakah tempat ayah….
"berjalanlah desa diutara, nanti kalau kamu menemukan ada acara (begawe), tanyalah kepada warga disana tentang ayahmu Penghulu Alim.." kata ibunya
"kalu begitu baiklah buuu…"jawab Si Kuat Medaran

Akhirnya dengan perasaan cemas ibunya menyiapkan perbekalan untuk Si Kuat Medaran. Walaupun masih kecil tapi Si Kuat Medaran memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Setelah perbekalan sudah siap si kuat medaran pun berangkat. Selama dalam perjalanan Si Kuat Medaran tidak pernah menemukan suatu halangan yang berarti, walaupun masih kecil namun anak ini memiliki kekuatan yang sangat  tinggi dan anehnya lagi sang anak memiliki kebiasaan makan yang banyak tanpa pernah puas itulah sebabnya dia di juluki Si Kuat Medaran(makan). Sesampai ditempat itu, Si Kuat Medaran bertemu dengan beberapa anak kampung yang sedang bermain-main di luar pagar pembatas dusun itu, dan kebetulan disana kebetulan lagi ada acara kawinan atau begawe (roah ) dalam bahasa sasaknya. Sang anak pun ikut bermain dengan anak-anak itu, namun keanehan terjadi, setiap anak yang disentuh selalu merasakan kesakitan, ada yang nangis. Melihat hal itu ada anak asing yang datang kedusun mereka yang memiliki kekuatan aneh, akhirnya penduduk dusun itu pun membawa Si Kuat Medaran ketempat begawe atau acara itu, dan kebetulan ayahnya ada disana lagi pimpin acara pernikahan itu.

Penduduk desa membawa si kuat medaran keberanda atau betaran dan dikasih makan oleh penduduk setempat. Namun si kuat medaran selalu minta makanannya ditambah, penduduk setempat menuruti kemauan si kuat medaran, sampai-sampi persedian makanan untuk tamu yang lain pun habis. Sehingga ditempat inilah dia mulai dipanggil dan dijuluki si kuat medaran (makan). Mendengar ada kegaduhan dengan kedatangan anak masih kecil tetapi makannya tidak pernah kenyang akhirnya sang penghulu alim pun melihatnya dengan penuh penasaran. Dengan raut wajah yang kaget sang penghulu alim terkejut bukan main ketika melihat si kuat medaran itu adalah anaknya sendiri. Sang penghulu alim mengetahuinya dari pakaian dan sabuk yang dipakai Si Kuat Medaran karna itu adalah pemberiannya kepada istrinya dulu ketika sedang hamil. Dengan persaan malu penghulu alim tidak mengakui bahwa itu adalah anaknya sendiri. Penghulu alim pun pamit dan mebawa si kuat medaran untuk pulang kerumahnya menanyakan kepada istrinya apakah benar si kuat medaran itu adalah anaknya.

Setelah kejadian ditempat acara begawe itu, penghulu alim jadi sangat membenci si kuat medaran karna dia merasa telah dipermalukan oleh anaknya sendiri sebagai seoarang kyai. Ketika sampai dirumahnya sang penghulu alim pun langsung menemui istrinya kemudian bertanya"
    "istriku,,,! Panggil sang Penghulu Alim terhadap istrinya.
    "Yaa suamiku…" jawabnya dengan nada lemah lembut
    "apakah benar anak ini adalah anak kita" kata Penghulu Alim dengan nada sedikit garang.
Sang istri pun menjawabnya; "yaaa…  emang benar itu adalah anak kita, memangnya ada apa dengan anak kita"

Dengan rasa acuh dan angkuh sang penghulu laim pun berkata "dia telah mempermalukan aku, di tempat acara begawe itu, dengan kebiasaan makannya yang tidak puas dan merasa kenyang sampai persedian makanan ditempat itu habis dimakan oleh anak kita itu"
Namun si kuat medaran diam tak berkata, walaupun ayahnya memarahinya dan kini sudah membenci dirinya namun dia tetap penurut terhadap ayahnya penghulu alim. Sang penghulu alim sendiri sangat membenci anaknya sehingga dia berniat membunuh si kuat medaran meski dia adalah anak kandungnya sendiri.
Pada suatu hari sang penghulu alim berniat mau membunuh si kuat medaran. Dia mengajak si kuat medaran kesebuah sumur tanpa sepengetahuan istrinya. Sesampainya di sumur itu, sang penghulu alim langsung mengajak si kuat medaran untuk membuang air sumur itu. Tanpa banyak bicara si kuat medaran menuruti ajakan ayahnya meskipun Sang Penghulu Alim sangat membencinya. Akhirnya ketika air sumur sudah mau mengering  sang penghulu pun istirahat dan menyuruh Si Kuat Medaran untuk mengumpulkan ikan-ikan yang ada dalam sumur itu. Sang penghulung pun naik dari sumur itu, dan mencungkil sebuah batu yang sangat besar kemudian digelindingkankan kedalam sumur itu. Si kuat medaran yang lagi asyik mengumpulkan ikan didalam sumur itu pun langsung tertimpa oleh batu yang besar itu. Dengan perasaan puas telah membunuh anaknya yang dibencinya, penghulu alim langsung pulang.
Ibunya Si Kuat Medaran sedih dan gelisah semenjak kepergian suaminya dan  si kuat medaran yang  tak pulang-pulang juga. Ketika melihat sang suami penghulu alim sudah pulang sementara Si Kuat Medaran tak kunjung pulang, sang ibu bertanya kepada suaminya itu.
"suamiku… apakah kau melihat anakmu si kuat medaran" Tanya sang ibu dengan perasaan cemas.
Penghulu alim pun menjawabnya dengan jawaban yang singkat dan acuh "ah… tadi aku liat dia di hutan lagi mengejar burung" jawabnya acuh sembari masuk kedalam kamar dan tidur, karena merasa puas telah mampu membunuh si kuat medaran.
Sementara ibunya Si Kuat Medaran gelisah bercampu cemas, karna anaknya tak jua pulang, hingga matahari sudah masuk diperaduannya si kuat medaran masih belum juga pulang kerumah. Dengan perasaan cemas dan berlinang air mata sang ibu duduk diberanda rumahnya menunggu kepulangan anaknya Si Kuat Medaran. Ketika dipertengahan malam sang ibu yang lagi duduk sedih menunggu anaknya dikejutkan dengan kedatangan anaknya Si Kuat Medaran dengan membawa batu dipundaknya yang begitu besar seraya berkata;
"ibu… ibuuuu… dimanakah  aku taruh batu besar ini"
"Oohh taruhlah disana anakku" jawab ibunya dengan perasaan kaget campur senang karna anaknya sudah kembali.

Si Kuat Medaran pun membanting batu itu hingga terjadinya gempa disekitar rumahnya. Sementara Penghulu Alim yang lagi nyenyak tidur kaget dengan adanya gempa , dia langsung keluar rumah. Dan yang lebih mengagetkan dan membingungkan adalah pulangnya Si Kuat Medaran sambil membawa batu besar yang dia gunakan untuk membunuhnya tadi siang.     Konon batu itu sampai sekarang di sebut batu penyenger (yaitu batu dari sifat marah campur kesal dai penghulu alim)
Melihat kejadian ini,  lagi- lagi Penghulu Alim semakin berniat untuk  membunuh anaknya. kemarin dia gagal membunuhnya dengan menimpakan batu besar, kali ini penghulu alim berencana untuk mengajaknya  menebang pohon dihutan. Tapi Kali ini Penghulu Alim meminta izin kepada istrinya,,, untuk mengajak si kuat medaran untuk menebang pohon di hutan. Tanpa berpikir dan merasa mau dibunuh si kuat medaran pun menuruti ajakan ayahnya, begitu juga ibunya pun mengizinkannya.
Akhirnya keesokan harinya, ketika matahari mulai menyongsong sang ibu menyiapkan bekal seadanya dan peralatan untuk suami dan anaknya Si Kuat Medaran. Si Kuat Medaran dan ayahnya Penghulu Alim pun berangkat kehutan. hutan yang dipilihnya adalah hutan yang punya pohon-pohon yang besar. Setelah menemukan sasaran yang tepat dan pohon yang besar dan tinggi, penghulu alim pun langsung memulai untuk menebang pohon ini, sementara Si Kuat Medaran disuruh untuk istirahat dulu. Beberapa waktu kemudian penghulu alim sudah kelelahan, dia pun menyuruh anaknya si kuat medaran untuk melajutkannya. Setelah selang beberapa waktu pohon pun sudah punya tanda-tanda mau tumbang, dengan cepat penghulu alim menggantikan Si Kuat Medaran kemudian menyuruhnya untuk duduk ketempat dimana arah pohon itu akan tumbang. Tanpa berkomentar Si Kuat Medaran pun menuruti saja kemauan ayahnya. Ketika Si Kuat Medaran duduk ditempat yang disuruhnya sang Penghulu Alim melanjutkan untuk menebang pohon itu yang sudah mau tumbang. Dengan cepat  tumbanglah pohon itu tepat dimana si kuat medaran duduk. Karna besarnya pohon ini Si Kuat Medaran pun belum sempat untuk menghindar dan tertimpa oleh pohon ini hingga tidak berkutik. Lagi-lagi penghulu alim pulang dengan perasaan senang karna usahanya untuk membunuh si kuat medaran pun berhasil. Sesampai dirumah sang ibu pun bertanya kepada suaminya,,,
Kakanda suamiku,,, kemana anakmu Si Kuat Medaran. Kenapa dia tak pulang bersamamu…???
Penghulu alim ; "anakmu masih asyik bermain-main dihutan tadi, sudah aku ajak pulang tapi tidak mau….!!

Seperti hari-hari sebelumnya sang Penghulu Alim pun masuk kedalam kamar rumahnya. Sementara ibunya si kuat medaran mencemaskan anaknya.  Malam sudah tiba, tapi si kuat medaran tak juga ada yang pulang. Ibunya sedih campur gelisah menanti kepulangan anaknya diteras rumah. Dengan cara sebelumnya, ketika dipertengahan malam, si kuat medaran pun pulang dengan membawa pohon besar beserta ranting-rantingnya kerumahnya.

    "Ibu,,,, ibu,,, ayah… dimanakah aku menaruh pohon ini???" ,,,kata Si Kuat Medaran
     "Taruhkan saja disana anakku…" jawab sang ibu dengan senang karena anaknya telah kembali, namun dia kaget dan bingung dengan tingkah anaknya yang bisa membawa batu besar dan pohon yang besar. Sementara sang penghulu alim semakin menbenci kelakuan Si Kuat Medaran. Namun si kuat medaran masih menuruti kemauannya.

Setelah kejadian itu sang Penghulu Alim semakin membenci anaknya si kuat medaran, namun Si Kuat Medaran tetap menuruti kemauan ayahnya. Sang penghulu alim bingung dengan cara apa untuk melenyapkan anaknya itu. Sehingga kali ini dia berpikir untuk mengusirnya tanpa sepengetahuan ibunya. Si kuat medaran pun menuruti kemauan ayahnya sehingga dia pun pergi kearah barat di wilayah Poret yaitu salah satu dusun kecil didaerah pesisir pantai. Setelah beberapa lama tinggal ditempat itu, dengan kelakuannya yang kalau makan tak pernah kenyang membuat masyarakat di didusun Poret ini enggan untuk mengasihnya makan. Pada suatu waktu si kuat medaran merasa lapar sekali, dan meminta makanan pada penduduk. Sehingga salah satu warga yang memiliki sebuah lumbung padi yang mau mengasihnya makan tapi dengan memberi satu syarat. Orang ini akan memberi makan apabila Si Kuat Medaran mampu mengangkat lumbung padi miliknya dan jika bisa mengangkatnya, dia boleh membawa pulang lumbung padi itu. tanpa banyak komentar si kuat medaran menuruti syarat itu. Dengan kesaktian yang dimilikinya dia mengangkat lumbung itu, dan bergegas pulang. Sementara orang itu tercengang kaget melihat kejadian itu, dia merasa menyesal telah meremehkan Si Kuat Medaran.
Sambil membawa lumbung padi beserta isinya, Si Kuat Medaran pulang kerumahnya. Ibunya sudah lama menunggu kepulangannya. Sesampai dirumahnya, Sang Penghulu Alim dan sang ibu kaget dengan anaknya itu. Kali ini sebuah lumbung yang dibawa pulang. Sang penghulu alim melihat kepulangan Si Kuat Medaran, semakin membencinya dan semakin kesal terhadapnya. Dengan segala usaha untuk melenyapkan si kuat medaran namun selalu gagal.

Kini Si Kuat Medaran sudah tumbuh dewasa, namun ayahnya tetap membencinya. Tak ada rasa kasih saying yang diberikan ayahnya untuknya. Ayahnya berharap tidak mau melihatnya. dengan itulah Si Kuat Medaran merasa harus pergi jauh dari hadapan ayah untuk selamanya. Dia pun berbicara kepada ibunya dan menjelaskan tentang ayahnya yang selama ini membencinya dan tak pernah mengangganya sebagai anaknya. Si kuat medaran meminta izin dan restu ibunya untuk pergi jauh mengembara untuk selamanya. Walupun berat hati walau ibu maupun si kuat medaran namun tidak pilihan lain baginya kecuali pergi. Sang ibu dengan berat hati mengizinkan anakmya itu.
Keesokan harinya sang ibu  menyiapkan perbekalan untuk anaknya Si Kuat Medaran dengan seadanya. Sang ibu menyiapkan tujuh buah ketupat, satu pisau kecil dan moto siu (adonan dari beras merah yang dicampur parutan kelapa).ibunya menyediakan pisau untuk membelah ketupatnya. Setelah perbekaln sudan siap si kuat medaran pun berpamitan kepada ibunya dan juga ayahnya penghulu alim. Dengan menangis sang ibu memeluk anaknya erat-erat karna ini adalah pelukan terakhir untuk anaknya itu, sedangkan sang penghulu tetap biasa saja, ,malah dia senang sekali atas kepergian Si Kuat Medaran. Seusai berpelukan Si Kuat Medaran pun berangkat dan pergi mengembara kearah timur.

Selama dalam pengembaraannya dia bertemu dengan dua seorang pemuda yaitu Seger Penyalin dan Kambing Moter. Dengan kedua sahabatnya itu dia jalani hari-harinya dan melawan jin-jin maupun seorang raksasa yang menggangunya sampai mereka bertemu dengan tiga orang gadis. Salah satu gadis itu berpakaian kotor karena dilumuri lumpur. Merka sangat menginginkan seorang untuk menemaninya selama dalam pengembaraannya. Mereka pun melakukan undian siapa yang menang dia yang dapat yang paling cantik. Namun Si Kuat Medaran selau kalah dan dengan terpaksa dia mendapatkan gadis yang kotor itu. Namun Si Kuat Medaran sangat terpesona akan kecantikan gadis itu setelah gadis itu membersihkan dirinya. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya Si Kuat Medaran yang terpana melihatnya, seger penyalin dan kambing moter pun melihatnya tanpa berkedip dan merasa iri terhadap si kuat medaran. Malah mereka ingin mengulangi undian itu.
Selama dalam pengembaraannya Si Kuat Medaran dan teman-temannya itu, memberikan nama setiap tempat yang di lewati diantaranya dusun Tambuk dan Gunung Junjung. Dan konon ceritanya Si Kuat Medaran Ini adalah nenek moyang dari raja pejanggik di Lombok timur.

 
****** TAMAT ******
=========================================================================
Sumber :  http://marim-senkreng.blogspot.com
read more

Asal Usul Nama Kota Ampenan

0 comments
kota ampenanTersebutlah pada zaman dahulu, kerajaan Bali berhasil membakar Desa Kenaga. Saat itu, yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Kenaga adalah Suradadi. Paihnya bernama Raden Satria Nata.
Setelah kalah perang dengan Bali, Raden Satria Nata bersama pengikutnya mencari tempat untuk membuka desa baru. Akhirnya, dijumpailah tempat yang mirip dengan desa Kenaga. Desa itu bemama desa Madya. Raden Satria Nata dan pengikutnya kemudian membuka ladang dan bercocok tanam di situ. Tanaman yang paling cocok adalah jenis “komak” (dalam bahasa Jawa disebut “kara”). Konon, pada saat komak sedang berbunga, datanglah putri Jin mengisap sari bunga komak. Salah satu putri Jin tertangkap oleh Raden Satria Nata. Singkat cerita, putri Jin itu kemudian menjadi permaisuri Raden Satria Nata. Namun, kedua belah pihak telah bersepakat untuk tidak saling berbicara selama menjadi suami istri.
Dalam perkawinan mereka, lahirlah seorang putra yang sangat disayang oleh Raden Satria Nata. Perasaan itu ingin ia ucapkan kepada istrinya. Namun, hal itu tidak mungkin karena ia tidak ingin melanggar janji yang telah disepakati.
Pada suatu hari, sang istri pergi ke perigi (sumur) mengambil air. Anaknya ditidurkan di atas “geong” (ayunan). Pada waktu itu, sang bayi sudah bisa duduk. Kesempatan itu dipergunakan oleh Raden Satria Nata untuk mengambil selendang yang biasa dipakai untuk menggendong putranya, lalu disembunyikan. Sejenak ia mengelus putranya yang sedang tidur nyenyak.
Tidak berapa lama kemudian, datanglah sang ibu. Sesampai di rumah, sang ibu melihat putranya sudah bangun dan menangis. Maka diangkatlah putranya, sambil mencari-cari selendangnya. Tanpa bicara sedikit pun sang ibu keluar masuk kamar mencari selendangnya, namun tidak dijumpainya.

Melihat wajah istrinya dan tingkah lakunya, Raden Satria Nata bertanya, “Apa yang engkau cari? Barangkali ini.” la berkata sambil menyodorkan selendang yang diambilnya. Istrinya segera mengambil selendang itu dan dengan sopannya ia bersimpuh dan berkata, “Sampai di sini kita hidup bersama. Saya terpaksa meninggalkan kanda karena kanda telah melanggar janji yang telah kita sepakati.” Kemudian, ia bangkit dan pergi mengambil “joman” (jerami) dan dibakarnya. Sang putri bersama Putranya lenyap bersama lenyapnya kepulan asap jerami.
Raden Satria Nata tak mampu menahan kepergian istrinya, kemudian ia pingsan. Setelah siuman ia dianjurkan untuk bertapa di gunung Sesang, agar bisa bertemu dengan anak istrinya.
Selama sembilan hari sembilan malam, ia tidak bisa berjumpa dengan istri dan anaknya. Hanya suara istrinya yang terdengar. Istrinya mengatakan bahwa dirinya tak mungkin kembali. Yang mungkin kembali adalah putranya, dengan syarat harus diadakan upacara selamatan dengan sesajen yang dilengkapi dengan dulang sebanyak empat puluh empat macam dan dibawa ke desa Kenaga.
Setelah diadakan upacara yang dipimpin oleh Nek Sura, putranya dapat kembali dan dipelihara oleh Nek Sura.

Raden Satria Nata tidak puas sebelum berjumpa dengan istrinya, namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Akhirnya, Raden Satria Nata meninggal di pertapaan.
Sementara itu, putra Raden Satria Nata telah berumur enam tahun, namun belum diberi nama. Lalu, dicarilah orang yang bisa memberi nama. Tujuannya adalah ke Gel-gel, tempat leluhurnya, barangkali ada yang bisa memberi nama. Konon pada saat menunggu perahu untuk menyeberang ke Bali, tiba-tiba datang seorang tua mengaku keturunan Satria Dayak, satu-satunya yang berhak memberi nama kepada putra Raden Satria Nata. Kemudian, putra Raden Satria Nata diberi nama “Satria Tampena”.

Dari nama Satria Tampena inilah konon asal nama kota Ampenan. Keturunan Satria Tampena terdapat di desa Suradadi, Kabupaten Lombok Timur.
=========================================================================
sumber : http://dongeng.org
read more

Sunday, April 21, 2013

Cerita Dongeng Dari Pulau Lombok | Legenda Suku Sasak

0 comments

Cerita Dongeng Dari Pulau Lombok | Legenda Suku Sasak
Legenda Suku Sasak - Man uah batur ? Arak sopok cerite.. Judulna "Sandal Tak Tahu Diri " . Simak baik baik..

Dahulu kala hiduplah seorang raja. Baginda raja itu memiliki sepasang sandal dari kulit kerbau. Kedua sandal itu merupakan pasangan suami-istri. Sang suami disebut Papuq Mame (papuk = kakek, mame = laki-laki ) dan sang istri disebut Papuq Nine (nine = perempuan ). Karena ini cerita dongeng  jadi sepasang sandal ini bisa bicara.
Pada suatu malam, ketika sang raja tengah tidur sandal ini ( dalam bahasa Lombok disebut Lelampak ) terlihat khawatir. Pasalnya setiap musim hujan sang Raja sering memakai mereka karena raja merasa jika lelampak ini enak digunakan ditanah yang basah. Tak heran banyak tikus yang sering mengintai mereka karena meraka mengeluarkan bau yang digemari tikus.
“Puqen..”panggil lelampak jantan kepada istrinya.
“ya.”
“jika kita begini terus selalu diintai oleh para tikus itu kita bisa jadi mangsa mereka. Bagaimana jika kita memohon kepada Tuhan agar dijadikan sepasang tikus?”
“jika begitu kemauan mu aku menurut saja sebagai istri”jawab lelampak betina.
Mereka pun lalu berdoa kepada Tuhan. Atas kuasa-Nya jadilah lelampak itu sepasang tikus yang gagah.
Kebisingan yang sering terjadi pada malam hari ketika tikus-tikus mencari makan membuat sang raja meminta pengawalnya mencarikan kucing untuknya. Banyaknya kucing yang dipelihara raja membuat kedua tikus jelmaan lelampak itu kuatir. Mereka lalu berdoa untuk dijadikan sepasang kucing.
Akhrinya mereka menjadi sepasang kucing. Mereka sangat disayang oleh baginda raja dan permaisurinya karena kelincahan mereka dalam menangkap tikus serta bulu mereka yang bagus. Namun pada suatu hari kucing itu mulai merasa gelisah lebih tepatnya iri. Mereka iri kepada anjing yang selalu dibawa sang raja dalam berburu. Mereka ingin dijadikan anjing pemburu. Dan demikianlah akhirnya mereka kembali diubah menjadi sepasang anjing pemburu yang lincah dan pandai berburu. 
Raja amat menyayangi mereka. Tapi lagi-lagi kedua jelmaan ini tak menerima keadaan mereka yang telah menjadi anjing. Keduanya merasa kebebasan mereka terganggu serta banyak yang memusuhi mereka sebab kepintaran dan kelincahan mereka. Kemudian mereka pun berdoa untuk dijadikan raja dan ratu. Keinginan merekapun tercapai mereka menjadi sepasang raja dan ratu. Kerajaan mereka cukup megah dan mulai banyak pengikutnya. Keadaaan ini lalu sampai ketelinga sang raja yang merupakan majikannya dulu. Lalu tanpa berfikir lagi, sang raja menyuruh pasukannya untuk menyerang kerajaan yang baru saja dibangun oleh sepasang jelmaan itu. Karena kerajaan mereka masih baru, pasukan mereka tak sebanding dengan raja. Akhirnya habislah kerajaan mereka.
Kedua lelampak yang telah menjadi manusia ini pun sakit hati atas kekalahan mereka. Sang istri lalu menyarankan agar mereka kembali kekerajaan dan menjadi abdi disana. Tapi keegoisan sang suami membuat sang istri tak dapat berbuat apa-apa. Sang suami mendesak sang istri untuk menyetujui usulnya untuk yang kesekian kalinya. Sang suami ingin dijadikan sebagai Tuhan. Terpaksa sang istri menurutinya. Kemudian keduanya pun mulai berdoa. Namun ketika doa mereka selesai, seketika papuq mame dan papuq Nine berubah kembali menjadi sandal.
================================================================
read more

| Guru Madrasah Blog © 2013. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Edited by Abdul Hanan | Back To Top |