Showing posts with label Adat sasak. Show all posts
Showing posts with label Adat sasak. Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

Upacara Kematian

0 comments


Dalam siklus kehidupan manusia, peristiwa kematian merupakan akhir kehidupan seseorang di dunia. Masyarakat meyakini kehidupan lain setelah kematian. Di beberapa kelompok masyarakat dilakukan persiapan bagi si mati. Salah satu peristiwa yang harus dilakukan adalah penguburan. Penguburan meliputi perawatan mayat termasuk membersihkan, merapikan, atau mengawetkan mayat :
    Upacara adat kematian yang dilaksanakan sebelum acara penguburan meliputi beberapa tahapan yaitu :
belangar1. Belangar
 Masyarakat Sasak Lombok pada umumnya menganut agama Islam sehingga setiap ada yang meninggal ada beberapa proses yang dilalui. Pertama kali yang dilakukan adalah memukul beduk dengan irama pukulan yang panjang. Hal ini sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa ada salah seorang warga yang meninggal. Setelah itu maka masyarakat berdatangan baik dari desa tersebut atau desa-desa yang lain yang masih dinyatakan ada hubungan famili, kerabat persahabatan dan handai taulan. Kedatangan masyarakat ke tempat acara kematian tersebut disebut langar (Melayat).
Tradisi belangar bertujuan untuk menghibur teman, sahabat yang di tinggalkan mati oleh keluarganya, Mereka biasanya membawa beras seadanya guna membantu meringankan beban yang terkena  musibah.
2. Memandikan
Dalam pelaksanaannya, apabila yang meninggal laki-laki maka yang memandikannya adalah laki-laki, demikian sebaliknya apabila yang meninggal perempuan maka yang memandikannya adalah perempuan. Perlakuan pada orang yang meninggal tidak dibedakan meskipun dari segi usia yang meninggal itu baru berumur sehari. Adapun yang memandikan itu biasanya tokoh agama setempat. Adapun macam air yang digunakan adalah air sumur. Setelah di mandikan, mayat dibungkuskan pada acara ini, biasanya si mayit di taburi keratan kayu cendana atau cecame.
3. Betukaq (Penguburan)
Adapun upacara-upacara yang dilaksanakan sebelum penguburan meliputi beberapa persiapan yaitu :
  1. Setelah seseorang dinyatakan meniggal maka orang tersebut dihadapkan ke kiblat. Di ruang tempat orang yang meninggal dibakar kemenyan dan dipasangi langit-langit (bebaoq) dengan menggunakan kain putih (selempuri) dan kain tersebut baru boleh dibuka setelah hari kesembilan meninggalnya orang tersebut. Selesai dibungkus si mayat disalatkan di rumah oleh keluarganya sebagai salat pelepasan, lalu dibawa ke masjid atau musala.
  2. Pada hari tersebut (jelo mate) diadakan unjuran sebagai penyusuran bumi (penghormatan bagi yang meninggal dan akan dimasukkan ke dalam kubur), untuk itu perlu penyembelihan hewan sebagai tumbal.
  3. Nelung dan Mituq
pesta sasak           Upacara ini dilakukan keluarga untuk doa keselamatan arwah yang meninggal dengan harapan dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa selain itu  keluarga yang ditinggalkan tabah menerima kenyataan dan cobaan. Selanjutnya diikuti dengan upacara nyiwaq dan begawe dengan persiapan sebagai berikut :
  1. Mengumpulkan kayu bakar. Kayu biasanya dipersiapkan pada hari nelung (hari ketiga) dan mitu (hari ketujuh) dengan cara perebaq kayu (menebang pohon).
  2. pembuatan tetaring. Pembuatan tetaring terbuat dari daun kelapa yang dianyam dan digunakan sebagai tempat para tamu undangan (temue) duduk bersila.
  3. Penyerahan bahan-bahan begawe. Peyerahan dari epen gawe (yang punya gawe) kepada inaq gawe. Penyerahannya ini dilakukan pada hari mituq.   Kemudian inaq gawe menyerahkan alat-alat upacara.
  4. Dulang Inggas Dingari, disajikan kepada Penghulu atau Kyai yang menyatakan orang tersebut meninggal dunia. Dulang inggas dingari ini harus disajikan tengah malam kesembilan hari meninggal dengan maksud bahwa pemberitahuan bahwa besok hari diadakan upacara sembilan hari.
  5. Dulang penamat, adapun maksudnya simbol hak milik dari orang yang meninggal semasa hidupnya harus diserahkan secara sukarela kepada orang yang berhak mendapatkannya. kemudian semua keluarga dan undangan dipimpin oleh Kyai melakukan do’a selamatan untuk arwah yang meninggal agar diterima Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan mengikhlaskan kepergiannya.
  6. Dulang talet Mesan (Penempatan Batu Nisan) dimaksudkan sebagai dulang yang diisi dengan nasi putih, lauk berupa burung merpati dan beberapa jenis jajan untuk dipergunakan sebelum nisan dipasang oleh Kyai yang memimpin do’a yang kemudian dulang ini dibagikan kepada orang yang ikut serta pada saat itu. Setelah berakhirnya upacara ini selesailah upacara nyiwak.
 Rangkaian upacara kematian pada masyarakat Sasak yaitu hari pertama disebut nepong tanaq atau nuyusur tanaq. Pemberian informasi kepada warga desa bahwa ada yang meninggal. Hari kedua tidak ada yang bersifat ritual. Hari ketiga disebut nelung yaitu penyiapan aiq wangi dan dimasukkan kepeng bolong untuk didoakan. Hari keempat menyiram aiq wangi ke kuburan. Hari kelima melaksanakan bukang daiq artinya mulai membaca AQur’an. Hari keenam melanjutkan membaca Al-Qur’an. Hari ketujuh disebut Mituq dirangkai dengan pembacaan Al-Qur’an. Hari kedelapan tidak ada acara ritual yang dilaksanakan, dan hari kesembilan yang sebut Nyiwaq atau Nyenge dengan acara akhir perebahan jangkih.
_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk
read more

Adat Perkawinan Sasak

0 comments


adat erpkawinan sasak

Bewacan

Bewacan adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh pembayun dalam suatu perkawinan ketika berlangsung adat sorong serah. adat Sasak.  Bewacan biasa terjadi apabila kedua belah pihak antara keluarga mempelai laki dengan mempelai wanita sudah ada perjanjian untuk bewacan. Jadi dari pihak laki menyiapkan pembayun dan demikian pula dari pihak perempuan harus menyiapkan pembayun.
Pada acara bewacan ada beberapa hal yang harus diketahui oleh setiap orang Sasak yakni sebagi berikut.
  1. PISOLO :
 adat erpkawinan sasak 2
adalah utusan Pembayun Penyorong ( dari pihak mempelai laki ) yang ditugaskan untuk menanyakan kesiapan olem-oleman, pesila’an, yang empunya gawe ( pihak mempelai perempuan ), apakah sudah siap untuk menerima kedatangsan Pembayun Penyorong memasuki lace-lace adat untuk menyerahkan Aji Krame Suci Lambang Adat . PISOLO hendaknya berpakaian adat rapi dan harus menguasai bahasa yang dipergunakan dalam menyolo.
Banyak PISOLO disesuaikan dengan aji karma adat  yang akan diserahkan, yakni :
a. Ajikrama 33        : penyolonya  2 orang, maksimal 3 orang
b. Ajikrama 66        : penyolonya  3 orang maksimal 5 orang
c. Ajikrama 100      : penyolonya 5 0rang maksimal tidak terbatas.
  1. PENGURANG, adalah utusan Pembayun Penampi ( pihak perempuan ) yang ditugaskan untuk mempersilakan Pembayun Penyorong dan pengiringnya ( penyorong ) untuk masuk ke lace-lace adat. ( Istilah Pengurang ini dipakai khusus di wilayah Pujut ). Pengurang setelah mempersilahkan Pembayun Penyorong, harus bersama-sama memasuki lace-lace adat dengan pembayun penyorong.
  2. Aksame  ( ucap-ucapan ) PISOLO :
 adat erpkawinan sasak 3
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Singgih sewauh dewek titiang puniki hangangsawung salam seugami sne wawuh tinujon ring wong Muslimin lan wong Muslimat.  Sane malingih, malungguh ring penantaran jembar puniki . Purun malih dewek titiang puniki hangangsung salam panembrame ring sanehan datu, raden, menak, buling, perwangse, triwangse- wangsa same pare kiyaim lebe, penghulu pendite, hatib, bilal, merebot same. Dane haji pare haji, pare santri, santri kabeh, permance-mance negare,  malinggih malungguh, ring penayuhan agung puniki. Sawireh onteng pribadi titiang puniki, jage need nurgehe  make miwah kang nyaranging titiang puniki ring kiwe, ring tengen, muah ring untat titiang puniki, senamian jage titiang puniki ngelungsur penurgahe, moga mogi ketampi mekadi atur dewek titiang puniki sane wauh ——— dawek———-.
Dijawab oleh Pembayun Penampi sebagai berikut :
Singih  dst…………………………………………………
AKSAME 1

PEMBAYUNAN PENYORONG
Petama-tama ngelungsur
ASS…WR…WB.
            Singgih jero pengarse’ng wecane minangke  kebaos pembayun penampi,tur malih ye’n menawi wenten  kepale dese memangke kebaos sesepuh Adat.Pare  pengelingsir-pengelingsir dise,datu,raden,me’nak baling.perwangse,triwangse,wangse-wangse same’,kiyai lebe’,penghulu pandite,khatib bilal  merbot same’,dane’ haji para haji,para santri-santri kabe’h,permance-mance Negara,malinggih-mlungguh hanaring penayuban  Agung puniki,sewauh ketampi pengangsung salam seagame  kang tinujon  ring wong muslimin,wong muslimat sane’magenah ring penegarayan  puniki,purun malih onteng dewek titiang puniki hangangsung salam  penembrame  sedulur mekadi  adat sasak kang utame,sewire’h de’we’k titiang puniki jage’  nedenurgehe,make miwah  kang nyarengin de’we’k titiang puniki,ring kiwo,ring tengen, make ring untat de’we’k  titiang puniki,senami’an jage’ titiang puniki ngelungsur penurgahe, moga magi ketampi  mekadi  atur de’we’k titiang puniki sanek wauh………………
………………..…………d a w e k………………………………
Kemudian dijawab pembayun penampi sbb:
                   Siggih jero pembayun ‘’’’’pengandike-pengandike regehingandike sane’  wauh kodal ,kalintang mabecik,kalintang mabagus  patut kaliwating  patut,pantes kaliwating pantes,sedidih tenane  engge’ne sisip,sekecap tanane  engge’ne  siwah._
Kaping utame:salam seagame  sampun kesauran  paksi._ kaping kalih salam  panembrame  utawi  salam adat sedulur  mekadi adat istiadat sasak kang  pinunju.sampun keluargehe  utawi sampun titiang tampi.semalih huge kang hangiring  nyarengin  ragehingandike  sampun ketampi  tuting ring kiwe,ring tangen,make miwah ring pungkur  ragehingandike.Hanging mangkin  minangke dados  penuwun de’we’k  titiang puniki ring regehinangandike,moga-mogi regehingandike swe’ca/kaide’n kodaling pengartike, minangke  penge’garing  serire sanehan  olem-oleman,pesila’an,make miwah undangan same’,turmalih sake’hingkang  hanenonton  ring upecare adat sasak  kang utame  puniki._
………………………………..d  a  w  e  k…………………………………..
Kemudian dijawab oleh PEMBAYUN PENYORONG sbb:
              _Allhamdulillah wasyukurillah……..ye’n sampun ketanpi salam panembrame  utawi salam adat  sedulur mekadi  adapt sasak kang utame  puniki.semalih ye’n keido’n  utawi swe’ce  ragehingandike  hamirenge  atur titiang puniki . minangka tembang penge’garing sarire,salam  mukadimah  ring upacare adapt puniki.Hanging  sedurung titiang puniki ngaturang  penge’ garing serire puniki ,nuhun agung-agung  pengampure ye’n  wenten atur titiang  kirang sebade ring  kahayun ragehingandike same’._
……………………………nede agung singampure…………………………………


TEMBANG DANG-DANG GENDIS
_ _ _SALAM SEMBAH LIWAT TEMBANG DANG-DANG GENDIS_ _PEMULUNE’ SALAM MUKA DIMAH  SANG UPECARE  ADAT RUKE_ _SORONG SERAH AJI KRAME  LUHUR_ _LABANGIPUN ADAT SASAK  SEJATI_ _TE’TE’ SANE’-PEMBAN SEKAWAN _ _RATU BAYAN  SELAPARANG PEJANGGIK  PUJUT_ _MILANE’ ADAT SENUNGGAL _ _KANG KEPENCAR_ _ DADOS  GALUH HEKELING  TANG BESE LOMBOK PUNIKE._ _ _
            Alan-alan _ _ _Agung-agung sinampure ring sanehan  datu,raden,me’nak buling,perwangse,triwangse,wangse-wangse same’ ,ye’n  menawi wanten kiyai lebe’,penghulu,pendite, khatib bilal,merbot same’,dane’ haji para haji ,para santrie-santrie kabe’h,permance-mance negare ,melinggih-melungguh hanaring  penayubang  Agung puniki.kiwe kaleganing tengen ,ayun tumeke’ng  pungkur,istri kakung lanang  wadon ,hulanjar ,lan perawan.sane’h  onang kahatur  de’we’k  titiang punik.Hanging aksame titiang punuki  kalintang nambet  antuk jugul  muden titiang,during ………titiang tatas  ring base saji  sedase ,sewiji de’we’k  titiang puniki  durung mauruh adat dise-sedise ,dasan muah pedasanan .
              Singgih ………..ye’n menawi wenten  iwang lempir  anering titiang puniki ,titi tindak  tanduk pakering titiang puniki  nede agung-agung sinampure  sepisan jangkeping seketi,mangdene’ titiang puniki  tan kewecane  nure mauruh tertib tapsile. Hulayat lan  jatmike,gumerojok  tan peradaban,nyurak gade tanpe  kare, ngadu pake ngangge’ sewenang-wenang bade’  hupedek ring arse ragehingandike  same’_ _singgig_ _wantah sampun niki atur titiang  puniki,,minang  ke salam  mukadimah kaping utame ring upacare  adat puniki,moga-mogi  ragehingandike  swe’ce hanimbal  atur titiang  sane’ wauh._
……………………………………..d  a  w  e  k…………………………………
AKSAME 2

PEMBAYUN PENAMPI
TEMBANG S I N O M
_ _ _PUJI SYUKUR ALLHAMDULILLAH _ _WIKE’H TITIANG HANEMUJI  NUWUN MARING  ALLAH KUASE  TAN LIAN  KANG PINUJI _ -TAN LIAN DADOS SESAMBELIN IA  MOGA-MOGI BAMANGGIH  RAHAYU_ _TAN KENE’NG  DIA  NENG-TULAK** KADOHAN DINING  BILAHI_ _MANGGIH SELAMET RING DUNIE TEKE’NG AKHERAT………………..
                 Sewauh …… hangrungu pengartikene’tetamie agung  sane’ wauh rauh ,tuhu mabecik ,tuhu mabagus ,sedidih nurene sisip,sekecap nurene siwah,manis luir pendah kadi gule darwe.yan karungu  saking kadohan luir  pendah kadi  sundari ketiup pawane.tatas ring sake’hing bahase.tuhu haggawe adat,trasne hangemban  karye agung,patut dadi rerantuman  wong sanegare ._Tije_ _ _tije sulak  saweneruhing rupe  tan weruhing  kekasih,dowe’he’  titiang candet  penugrahe  ragehingandike  melebe’ng  hanaring  penantaran puniki.hanging mare tembe’ mangkin titiang kalawan  ragehingandike kecatre’ng tingal,nembung  rerasan hanaring  penegarayan puniki.
Hiku _ _mangdane’ titiang puniki, saking awit  matur agung –agung  pengampure ring  ragehingandike ,make miwah  kang nyarangiring  kiwe ,ring tengen ,ring pungkur  regehingendike.ye’n  menawi wenten  sisip lempir titi tindak tanduktur malih atur titiang  lumiring  ragehingandike  nembung rerasan ,sepisan malih nede  agung sinampure sepisan jangkeping seketi,mangdene’ tan kewecane  nure mauruh tertib  tapsile, adapt-istiadat,hulayat lan jatmike, nganggom polah  sewenang-wenang bade’ hanampi karauhan  ragehingandike  same’._
             Singgih ……..wantah sampun niki atur de’we’k  titiang puniki minangke  dados penambung wecane  regehingandike  kaping utame ,dawek sepisan malih regehingandike  medaling  pengartike ._
……………………………………….d  a  w  e  k………

_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

Adab Bertamu dan Menerima Tamu

0 comments

Kapan saja dan siapa saja dapat datang ke rumah seseorang untuk bertamu, baik dengan berjanji terlebih dahulu atau  tanpa membuat janji terlebih dahulu. Dalam bahasa Sasak bertamu disebut betemue. Bertamu yaitu mengujungi rumah orang lain baik itu keluarga, sahabat kerabat atau siapa saja. Apabila seseorang pergi mengujungi rumah orang lain, dalam tatakrama adat Sasak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

A.   Waktu Bertamu
 Perlu diketahui bahwa untuk bertamu, tidak ada ketentuan mengenai adanya waktu-waktu tertentu. Konsep orang  Sasak tentang waktu lebih longgar, sama sekali tidak terikat  oleh alat penjaga waktu yang selalu dililit di tangan yang bernama arloji. Konsep waktu orang Sasak lebih berkaitan dengan waktu alami yang berhubungan dengan waktu untuk salat. Sehingga dalam pergaulan dan membuat jadwal-jadwal, seringkali ditentukan waktu ba’da ashar, ba’da magrib dan sebagainya.Waktu bertamu yang juga dianjurkan adalah pada malam hari setelah salat isya (jam 20.00) sampai sekitar jam 22.00, atau bahkan bisa lebih lama dari itu.Waktu antara saat shalat Magrib dan lsya’ bagi kebanyakan orang Sasak, dipergunakan untuk beribadah (shalat) dan atau untuk makan malam. Karena itu sebaiknya tidak dipilih saat-saat itu untuk berkunjung. Tamu yang akan berkunjung harus benar-benar mengetahui waktu yang luang tuan rumah yang akan dikunjungi.
B.   Tata Cara Bertamu
Tamu yang datang hendaklah terlebih dahulu mengucap salam agama “ Assalmu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, barulah mengetuk pintu. Apabila tuan rumah sudah membuka pintu dan mempersilakan masuk, maka tamu sedikit membungkuk memberi hormat lalu masuk. Biasanya tuan rumah menyilakan tamunya duduk, apakah dengan bersila atau duduk di atas korsi. Pada masa dahulu amat jarang dijumpai korsi tempat duduk. Biasanya digunakan lante *) sebagai alas tempat duduk bersila.
Di rumah orang Sasak, acapkali ditemukan Berugaq* ). Ukuran lumrahnya 2,5 x 2 meter yang biasa juga disebut sekepat ( berugak bertiang empat ). Selain Berugaq, ada juga bale jajar ( karena konstruksi tiangnya berjajar) atau disebut sekenem yang jumlah tiangnya enam buah. Fungsi sekenem sama dengan berugaq tetapi ukurannya lebih luas, sekitar 5×3 meter. Di sinilah lazimnya orang Sasak menerima tamu yang diakrabinya. Karena berbentuk bale-bale sehingga di kedua jenis bangunan (berugaq atau bale jajar/sekenem)  tidak disediakan kursi, akan tetapi  caranya dengan duduk bersila.
Perlu juga diperhatikan bahwa jika memasuki rumah untuk bertamu, secara umum berlaku tradisi melepas alas kaki, sepatu ataupun sandal. Kecuali jika tuan rumah terus menerus melarang melepas alas kaki, jika tamu  mau, dapat juga tidak melepasnya.
C.   Menerima Suguhan
Tidak jarang, kopi sebagai suguhan tunggal tuan rumah terhadap tamunya. Dalam hal kopi sebagai suguhan tunggal, tuan rumah akan menyampaikan ungkapan basa-basi dengan mengatakan: kopinya wanen *), maksudnya kopi itu dihadirkan sendiri tanpa ada penganan lain yang menyertainya. Tetapi suguhan minum bisa juga ditemani kue dari jenis apa saja, tidak ada yang standar. Orang Sasak suka dengan suguhan kopi. Banyak diantaranya memiliki cita rasa yang tinggi sehingga terampil membedakan secangkir kopi yang diseduh dengan air yang baru mendidih dengan panas yang cukup, air panas dimasak dengan kayu bakar. Begitu pula, bisa di bedakan antara kopi yang dimasak pakai kekete* ).
D.   Hal Tabu Ketika Bertamu
  1. Mengambil atau Memegang dengan Tangan Kiri
Orang Sasak, pada dasarnya tidak menerima budaya tangan kiri (left-handed). Anak-anak yang terlahir kidal, dipaksa untuk mengubah bawaan alaminya untuk mengikuti “Budaya tangan kanan” dengan cara yang kadang-kadang dipaksakan.
Bagi masyarakat Sasak, ada perbedaan yang tegas antara fungsi tangan kanan dan tangan kiri dalam penggunaannya. Orang Sasak menganggap bahwa tangan kanan adalah “Tangan baik” sedangkan tangan kiri adalah “Tangan kotor” yang wilayah penggunaannya terbatas,  paling untuk urusan membersihkan sesuatu yang dianggap kotor. Ini budaya Sasak dan tidak terlalu dipermasalahkan.
Tangan kiri memiliki image yang lebih buruk sehingga tidak digunakan untuk memberi dan menerima sesuatu bahkan untuk menerima uang sekalipun. Tangan kiri tidak dipakai menunjuk sesuatu, atau  me­ngambil makanan. Khusus bagi seseorang yang kidal tentu saja tidak akan dipandang tidak sopan jika ia menulis, mengoperasikan alat tertentu, atau kegiatan lainnya, sepanjang itu dilakukan untuk dirinya sendiri tanpa ada hubungan komunikasi dengan orang lain. Khusus dalam hal menunjuk, cara yang dianggap paling sopan adalah menunjuk dengan jempol jari tangan kanan. Perlu digaris bawahi juga bahwa meng­gunakan kaki untuk menunjuk sudah tentu sangat melanggar aturan tatakrama adat Sasak.
2.     Hindari kata Kamu
Kosa kata yang paling dihindari penggunaannya dalam percakapan dengan orang Sasak adalah kata kamu “ ente” untuk laki-laki dan “kemu” untuk wanita  Meskipun percakapan tersebut menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak mengenal strata dalam kosa katanya, tetapi orang Sasak terlanjur memandang kata kamu sebagai kata yang kasar dan dipakai untuk menyatakan kemarahan atau merendahkan lawan bicara. Karena itu, sangat dihindari penggunaannya dan digantikan dengan kata situ, Anda  atau “side” (bahasa Sasak).
Untuk menyatakan orang kedua tunggal (kamu) kepada orang yang dihormati karena status sosialnya maupun karena usianya yang lebih tua, digunakan kata pelinggih atau pelungguh. Jika lawan bicara berstatus tertinggi yang bergelar Datu (laki-laki)  atau Dinde (perempuan) atau Raden Nune (laki-laki belum  menikah), digunakan kata Pelungguh Dekaji. Tetapi untuk yang terakhir ini sangat jarang digunakan, lebih-lebih pada zaman sekarang yang sudah banyak mengalami pergeseran
Kata side digunakan dalam percakapan antara dua orang yang setara dari segi usia atau status sosial. Jadi, mesti berhati-hati dengan kata yang satu ini, kalau ada orang Sasak dikatakan kamu, ente, atau kemu  dan mereka diam, perlu bijak dalam menafsirkan diamnya itu. Artinya, sebenarnya mereka merasa tidak nyaman, tetapi sekaligus mencoba belajar menerima perkataan itu.
3. Ketika Makan Bersama
adab bertamuOrang Sasak memiliki tradisi makan bersama dengan cara duduk. Tradisi ini memiliki aturan-aturan kecil yang mesti diperhatikan. Adalah bijak bagi tamu jika mengenal tradisi keseharian tuan rumah. Seseorang akan merasa lebih dihargai jika menyaksikan bahwa tamunya bersedia mengikuti tradisi yang dianut tuan rumah. Itu bisa membuat tuan rumah menjadi lebih cepat akrab.
Pertama, jangan mulai mengambil makanan sebelum tuan rumah atau salah seorang yang akan mewakil tuan rumah mempersilahkan. Tuan rumah biasanya akan mempersilakan dengan mengatakan: dawek. ngaturang, atau silaq.atau silaq ngiring mulei.
Kedua, ambil dan suaplah makanan hanya dengan tangan kanan. Tangan kiri jangan pernah dipakai. Selain itu, orang Sasak makan dengan lauk dan daging dari wadah yang sama, dan tidak selalu disediakan sendok. Memang terasa lebih akrab, kendatipun sudah mulai dipertanyakan dari segi kesehatan dan kebersihan, namun inilah yang sudah teradat di Gumi Sasak.
Ketiga, selama acara makan bersama berlangsung, tidak boleh membicarakan hal-hal yang menjijikkan, membuang ingus, mengunyah makanan sampai mulut berbunyi mecak *)  bahkan tidak umum berbicara berlebihan.
Keempat, jika seseorang telah selesai makan, tidak berarti boleh langsung cuci tangan. Tunggulah sampai orang lain sudah selesai makan dan dipastikan ada seseorang yang akan menawarkan untuk mengakhiri acara makan bersama tersebut. Jika anda sudah terlanjur selesai dan belum juga ada yang mempersilahkan menutup acara makan bersama tersebut, dibolehkan mengambil apa saja hidangan yang masih tersedia, biasanya kacang-kacangan yang gurih.
4. Bersiul
     Bagi orang Sasak, ekspresi kesenangan dengan cara bersiul mesti dilakukan pada tempat dan waktu yang pantas. Bersiul di malam hari sangat dilarang. Begitu pula, bersiul di wilayah-wilayah yang bersifat pribadi seperti di dalam rumah. Demikian juga di pekarangan rumah tidak dibolehkan.
Tempat yang dipandang pantas untuk bersiul adalah di tempat umum, seperti di jalan raya, di kebun, di sawah, di ladang, dan tempat-tempat sejenis. Mitos yang berkembang di kalangan suku Sasak dalam hal bersiul yaitu bisa mengundang datangnya ular. Entah apa kaitannya, tetapi diduga itu hanya jalan pikiran untuk menakut-nakuti sehingga seseorang tidak bersiul di tempat-tempat yang merupakan wilayah pribadi.
5. Mengumpat
Dalam konteks pergaulan dan keakraban yang dalam, terutama di kalangan orang Sasak kebanyakan, dua orang Sasak yang saling bertemu, akan saling mengumpat dengan kata-kata yang kotor lagi kasar, tetapi kadang banyak di antara mereka mereka mampu membedakan antara umpatan untuk keakraban dengan umpatan untuk menghina atau karena marah dan kesal. Di tengah-tengah bermaki-makian dan berumpat ria itu, satu hal yang tidak boleh dilakukan, yaitu seorang laki-laki tidak boleh mengumpat kepada seorang wanita dengan menyebut kemaluan wanitanya. Itu bisa tergolong pelanggaran adat. Tetapi jika saling  umpat di antara sesama wanitanya meskipun dengan menyebut kemaluan wanita, tidak termasuk pelanggaran.
6. Pegang Kepala, Telinga dan Pundak
Bagi orang Sasak, ada tiga bagian tubuh yang tidak boleh dipegang atas alasan yang berbeda yaitu kepala, telinga dan pundak. Jangan coba-coba memegang kepala laki- ­laki di luar keperluan untuk bercukur atau mungkin mencabut ubannya. Mereka sangat menjaga kepalanya agar tidak dipegang sembarang orang, karena diartikan sebagai tindakan merendahkan atau terkalahkan. Lain lagi maknanya memegang telinga. Mereka tak menyukainya karena ini salah satu cara untuk menantang berkelahi. Memegang pundak juga tidak lazim. Seseorang yang telah dipegang pundaknya merupakan pertanda ia telah dikuasai (under controlled) oleh pemegangnya. Kadang orang Sasak beranggapan bahwa dipegang pundaknya berarti direndahkan.
7. Berludah
Selain mengumpat seperti disebutkan di muka, dalam mengekspresikan perasaan marahnya, orang Sasak juga akan memperlihatkan dengan cara berludah. Tetapi cara berludah di sini bukan dilakukan dengan cara yang lazim sebagaimana berludah alami, melainkan dengan membuat tarikan kuat di rongga mulut lalu dikeluarkan dengan tekanan dan bunyi yang kuat pula bekoeek Biasanya bekoeek*)  dilakukan dengan cara yang demonstratif, langsung di depan seseorang yang ingin dijadikan target kemarahannya. Ada kalanya orang yang ditargetkan tidak di tempat maka dapat juga diperlihatkan kepada lawan bicara yang ada, akan tetapi tetap saja untuk memperlihatkan kemarahannya kepada orang ketiga yang dibencinya.
Berludah di dalam rumah juga sangat dihindari oleh orang Sasak. Lebih-lebih jika ada orang lain teman duduk, maka jangan berludah secara langsung di depannya, melainkan dengan cara permisi terlebih dahulu dan keluar sebentar untuk keperluan berludah.
________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Upacara Kelahiran

0 comments

Upacara ini sangat penting artinya bagi sebuah keluarga, rambut yang di bawa dari dalam kandungan di sebut bulu panas, maka harus dihilangkan. Untuk itu masyarakat Sasak melakukan selamatan, doa atau upacara sederhana yang disebut ngurisang. Pada upacara ini pihak keluarga mengundang para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat untuk membacakan selakaran yang terdiri dari untaian do’a dan Shalawat Nabi.


Anak merupakan sesuatu yang sangat didambakan bagi pasangan suami istri, begitu pula dengan masyarakat sasak. Ketika mendapatkan seorang anak (melahirkan anak) masyarakat sasak umumnya melakukan berbagai upacara untuk mensyukuri kelahiran anaknya. Berikut adalah berbagai Upacara Kelahiran  yang dilakukan oleh masyarakat sasak sebelum dan ketika telah melahirkan anak.
A.   BRETES
Upacara bretes dilakukan setelah usia kandungan tujuh bulan dengan maksud memberikan keselamatan kepada ibu dan calon banyinya. Setelah banyi lahir, ari-arinya diperlakukan sama dengan sang  banyi, karena menurut mereka ari-ari adalah saudara sang banyi yang oleh orang-orang Sasak disebut adik-kakak, berarti bayi dan ari-arinya adalah adik-kakak.
Setelah ari-ari dibersihkan kemudian di masukkan ke dalam periuk atau tempurung kelapa setengah tua yang sudah dibuang airnya kemudian ditanam di wilayah penirisan yang diberi tanda dengan gundukan tanah seperti kuburan. Sebagai batu nisannya dipergunakan bambu kecil berlubang yang diletakkan berdampingan dengan lekesan daun sirih yang sudah digulung dan diikat dengan benang putih, pinang, kapur sirih dan rokok tradisional. Semua kelengkapan tadi ditata dalam rondon. Rondon tersebut dari daun pisang yang berbentuk segi empat menyerupai kotak.


B.   MELAHIRKAN ANAK
Setelah itu mengadakan sesaji atau selamatan melalui upacara  tertentu yang berkaitan aktivitas kehidupan mereka sehari-hari, sebagai mana halnya yang dilakukan wanita Sasak apabila melahirkan, maka suaminya segera mencari belian (dukun beranak) yang mengetahui seluk beluk melahirkan tersebut.
Dalam melahirkan, apabila calon ibu kesulitan dalam melahirkan maka belian atau dukun beranak menafsikan bahwa tingkah laku sang ibu sebelum hamil, misalnya kasar terhadap suami atau ibunya, untuk itu diadakan upacara seperti menginjak ubun-ubun, meminum air bekas cuci tangan yang disertai dengan mantra dan sebagainya agar mempercepat kelahiran sang bayi.

C. MOLANG MALIK
 Pada saat bayi berumur tujuh hari diadakan upacara molang malik (membuang sial) diperkirakan dalam usia tersebut pusar bayi telah gugur. Pada kesempatan itulah sang bayi diberi nama dan diperbolehkan keluar rumah. Belian (dukun beranak)  mengoleskan sepah sirih di atas dada dan dahi sang bayi maupun ibunya. Di beberapa tempat di Lombok selain upacara  molang malik dikenal juga upacara pedak api yang pada hakikatnya bertujuan sama. Prosesi pelaksanaan pedaq api adalah :
  1. Mem-boreh sang ibu dengan boreh yang sudah diramu atau di haluskan dan diberi doa oleh dukun beranak.
  2. Setelah selesai memboreh lalu dukun menyiapkan bara api yang terbuat dari sabut kelap yang di taburi kemenyan dari daun lemundi (sejenis tumbuhan pardu).
  3. Ibu bayi menggunkan kain secara berkembeng (kain sampai batas dada) sambil menggendong bayinya dan berdiri diatas bara api dan kemudian dukun memberinya doa / mantra.
  4. Setelah dukun beranak atau belian selesai berdoa bara api disiram dengan air bunga rampai (medak api)
  5. Kemudian sang ibu menyembe’ dan menjam-jam (mendoakan si bayi menurut kehendak sang ibu). Hal ini dilakukan apabila tali pusar sang bayi sudah kering dan terlepas dari pusarnya.
Pada saat itu juga diadakan upacara turun tanah (turun gumi) dengan menurunkan bayi tersebut sebanyak tujuh kali ke atas tanah. Bertepatan dengan ini juga diadakan pemberian nama pada si bayi. Untuk bayi perempuan diturunkan bilamana terdapat alat nyesek (menenun) dan untuk bayi laki-laki diturunkan bilamana terdapat tenggele/bajak (alat pertanian). Umumnya dibeberapa tempat, si bayi yang melangsungkan upacara pedaq api digendong memakai umbaq (lempot). Bila bayinya perempuan maka yang dipakai adalah umbaq yang dipakai milik ayah, sedangkan jika laki-laki maka yang dipakai adalah umbaq milik ibunya.
Bagi orang Sasak, pusar si bayi yang sudah jatuh disimpan dan dibungkus dengan kain putih dan kemudian dimasukkan  ke dalam tabung perak atau kuningan untuk dijadikan azimat. Selain itu air bekas siraman pusar bisa dijadikan obat apabila si anak sakit mata.
D.   NGURISANG
Biasanya seorang laki-laki atau ayahnya menggendong bayi tersebut sambil berjalan berkeliling dihadapkan orang –orang yang sedang membacakan selakaran  serta masing –masing yang hadir memotong sedikit rambut sang bayi dengan gunting yang direndam dalam air bunga. Pada upacara ini dikenakan sabuk pemalik yakni alat yang dipergunakan untuk menggendong si bayi. Sabuk pemalik dianggap keramat karena proses pembuatan dan penyimpanannya berdo’a.
Upacara ngurisang biasanya diadakan secara besar-besaran dan diikuti dengan upacara bekekah yaitu memotong hewan kurban di sebut begawe kekah. Sering kali terkadang pelaksanaan bekuris agak mundur karena terkait dengan finansial. Namun jika tidak mampu cukup pergi ke dukun beranak yang telah membantu kelahirannya. Dalam hal ini cukup mengantar sesaji (andang-andang) dan sabuk katik (sejenis umbak tepi berukuran kecil dengan bentuk masih bersambung). Sabuk ketiq di masyarakat Sasak disebut Lempot puset atau sabuk kuning.
Beberapa kelompok masyarakat ada yang melaksanakan upacara ngurisang di pedewaq atau kemaliq (ritual waktu telu) disebut begawe rasul. Sebelum upacara ngurisang dimulai terlebih dahulu dibuatkan umbaq kombong yaitu umbaq yang rumbainya tidak terdapat ikatan kepeng bolong (uang logam China). Jika terdapat ikatan pada rumbainya maka umbaq tersebut dipergunakan pada upacara ngayu-ayu di masyarakat Sasak.
Tenun umbaq kombong dibuat oleh ibu atau nenek yang dipandang memiliki kemampuan secara spiritual dan tidak dalam keadaan kotor. Jika tidak memiliki kemampuan dapat mendatangkan  bencana bagi si penenun.
 E. NYUNATANG
sunatan sasak
Nyunatang (Khitanan) selain merupakan acara adat, juga merupakan acara keagamaan dalam hal ini terkenal dengan nama “nyunatang”. Pada umumnya suku Sasak memeluk agama Islam yang dalam ajarannuya diperintahkan bagi anak laki-laki untuk dikhitan ( nyunatang). Dalam nyunatang  terjadi pertalian antara nilai-nilai agama Islam dengan Tradisi lama yang berkembang dalam suku Sasak, sehingga diadakan pada bulan Maulid nabi besar Muhammad SAW. Anak laki-laki yang akan dikhitan bisanya berumur lima tahun atau tujuh tahun, namun dalam prakteknya anak-anak berumur empat tahun pun dikhitan. Dalam upacara nyunatang ada beberapa hal yang harus dilakukan :
   a.  Menjelang Nyunatang
Upacara adat nyunatang adalah salah satu upacara yang sangat penting bagi masyarakat Sasak yang selalu dipestakan yang disebut  begawe. Dalam prosesi begawe ini banyak sekali dilalui berbagai macam acara seperti pergi membersihkan beras ke mata air yang diiringi dengan bunyi-bunyian musik tradisional gendang belek atau gamelan.
  b.  Pelaksanaan Nyunatang
Sehari sebelum pelaksanaan nyunatang terlebih dahulu diambilkan air kemaliq untuk disiram ke ujung kemaluan yang akan dipotong , biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian. Proses penyiraman dan pemandian dilangsungkan pada tengah malam. Pada keesokan harinya untuk menyenangkan anak yang akan disunat maka anak tersebut diarak dengan praja (kuda/singa kayu) yang diiringi dengan musik dan rombongan yang berpakaian adat.
Anak yang akan dikhitan dibawa ketempat penyunatan (sepekat). Setelah disunat segera diobati, untuk mengurangi pendcarahan pada bekas sunatan, ditaburi bulu kucing yang dicampur dengan kuning telur, supaya lekas kering ditaburi dengan batu karang yang telah ditumbuk halus.
Pada masyarakat Sasak, upacara nyunatang  dilaksanakan pada hari Kamis sebagai puncak acara dalam bulan Maulid. Hal ini dikaitkan dengan kelahiran seorang Rasul pembawa agama Islam. Kegiatan ini bermakna simbolis atas pengakuan, pembentukan dan pembinaan dalam fase awal untuk menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, diyakini sangat tepat upacara nyunatang dirangkaikan dengan peringatan akhir kelahiran Nabi.
Kemudian, untuk keperluan nyunatang dibuatkan pepaosan yaitu balai yang dihias sebagaui tempat duduk undangan yang melambangkan derajat upacara resmi. Untuk menghias tempat pepaosan sering digunakan kereng kemaliq (kain yang disucikan ), sedangkan petugas yang disuruh membuat pepaosan adalah seorang nyaka dan mantri yang didatangkan dari berbagai kampung. Bagi anak-anak Sasak yang akan dikhitan diharuskan memakai kereng yang khusus ditenun  pada bulan Rabiul Awal.
_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
DUP00195

read more

Upacara Perkawinan

0 comments


A.   Perkawinan Adat Sasak
Adat perkawinan pada masyarakat Lombok dikaitkan dengan upacara sorong serah aji krame. Seorang pemuda (terune) dapat memperoleh seorang istri berdasarkan adat dengan dua cara yaitu : pertama, dengan soloh (meminang kepada keluarga si gadis ), kedua, dengan cara merariq (melarikan di gadis). Setelah salah satu cara sudah dilakukan, maka keluarga pria akan melakukan tata cara perkawinan sesuai dengan adat Sasak.
B.   Prosesi Perkawinan Adat Sasak
 Adapun prosesi secara lengkap adalah sebagai berikut :
1. Mesejati
Mengandung arti bahwa dari pihak laki-laki mengutus beberapa orang tokoh masyarakat setempat atau tokoh adat untuk melaporkan kepada desa atau keliang (kepala dusun) untuk mempermaklumkan mengenai perkawinan tersebut tentang jati diri calon pengantin laki-laki dan selanjutnya melapor kepada pihak keluarga perempuan.
2. Selabar
Mengandung maksud untuk mempermaklumkan kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan yang ditindaklanjuti oleh pembicaraan adat istiadat meliputi  aji krame  yang terdiri dari nilai-nilai 33-66-100 dengan dasar penilaian uang atau kepeng bolong  atau kepeng jamak, bahkan kadang-kadang secara selabar ini dirangkaikan dengan permintaan wali sekaligus.
3. Menjemput Wali 
Menjemput wali adalah menjemput wali dari pihak perempuan bisa langsung pada saat selabar atau beberapa hari setelah selabar  dan hal ini tergantung kesepakatan dua belah pihak (kapisuka).
4. Mengambil Janji
Dalam pelaksanaan pengambilan janji ini adalah membicarakan seputar sorong serah dan aji krame sesuai adat istiadat yang berlaku didalam desa atau kampung asal calon mempelai perempuan.
5. Ajikrama (sorong serah)
Berasal dari kata “aji”  dan “krama” aji berarti nilai dan kerama berarti cara atau adat. Berarti ajikrama artinya nilai adat. Ajikrama disebut juga sorong serah yaitu suatu pernyataan persetujuan kedua belah pihak baik dari pihak perempuan maupun dari pihak laki-laki mengirim rombongan yang terdiri dari 20 sampai 30 orang mendatangi keluarga pihak perempuan dengan membawa harta benda yang dinamakan gegawan. Rombongan ini disebut penyorong  sedangkan keluarga pihak perempuan yang akan menerima disebut  penanggap. Macam-macam harta benda yang dibawa penyorong adalah :
a.     Sesirah, berupa barang atau logam mulia seperti gelang emas. Simbol ini berarti untuk membedakan antara orang bebas dengan budak. Pada zaman dahulu masih ada perbudakan masih berlaku akan tetapi sekarang ini hanya sebagai perlengkapan saja.
b.     Lampak Lemah: lampak artinya  telapak, dan lemah artinya tanah. Dengan demikian lampak lemah ini berupa uang memiliki makna sebagai penghapus bekas telapak kaki di atas tanah yang pernah dilewati oleh calon mempelai wanita sewaktu ia melarikan dirinya meninggalkan orang tua dan keluarganya.
c.      Pemega , berarti pemutus, berupa uang yang terdiri dari seikat benang bolong yang dipergunakan sesudah semua pembicaraan selesai dengan kata sepakat. Hal ini merupakan bentuk penegasan pada hari itu, telah resmi perkawinan menurut adat antara kedua mempelai.
d.     Salin dedeng atau tedung arat berupa sebuah ceraken di atasnya diletakkan sebuah buluh yang diruncingkan tetapi sekarang sering dipergunakan semprong lampu, dan sebilah kulit bambu yang tajam lalu diikat sehelai kain yang cukup untuk jadi selendang. Keberadaan benda tersebut memiliki makna persiapan untuk menantikan kelahiran seorang bayi yang dihasilkan dari perkawinan tersebut.
e.      Olen-olen berupa sebuah peti yang didalamnya diisi dengan bermacam-macam kain atau sarung tenun tetapi sekarang sering dipakai koper. Benda ini memiliki simbol sebagai pelengkap mungkin terjadi kekurangan akibat dari pembicaraan dalam acara sorong serah secara keseluruhan.
 6. Nyongkolan
 nyngkolan sasak
Dalam pelaksanaan nyongkolan keluarga pihak laki-laki disertai oleh kedua mempelai mengunjungi pihak keluarga peerempuan yang diiringi oleh kerabat dan handai tolan dengan mempergunakan pakaian adat diiringi gamelan bahkan gendang beleq.
7. Balik Lampak
Balik lampak merupakan salah satu tradisi untuk berkunjung ke rumah orang tua perempuan secara khusus bersama  kedua orang tua pihak laki-laki.
___________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Adat Sasak Untuk Lingkungan Hidup

0 comments


A. Adep Betanduran

untitled
Masyarakat Gumi Sasak sejak dahulu kala mengenal pola betanduran (bertani) sejak zaman nenek moyang. Dalam adat sasak sebelum menanam padi di sawah sebagai bahan makanan pokok mempersiapkan beberapa hal :
  1. Mempersiapkan bibit yang baik dari hasil panen tahun lalu yang ditempatkan pada bagian bawah lumbung, hal ini dimaksudkan supaya bibit tetap terpelihara dengan baik dan tidak dimakan hama.
  2. Jika musim hujan diperkirakan akan tiba para petani mempersiapkan diri menurunkan bibit dengan menyiapkan daun bikan, sejenis rumput, daun jeringo yang akan digunakan sebagai bubus, selanjutnya air merendam perak dan emas dicampur air rendaman empit (kerak nasi).
  3. Acara penanaman bibit dengan doa dengan harapan agar buah padi yang di tanam putih seperti perak dan kuning seperti emas. Baru kemudian bibit dihamparkan sebagai bibit.
  4. Setelah tiba waktunya untuk ditanam, bibit dicabut untuk ditanam secara bergotong royong tua, muda, laki, perempuan. Acara gotong royong sesuai jadwal yang ditetapkan oleh pekasih (petugas pengatur air).

B. Upacara Tong-Tong Suit
Upacara ini dilakukan apabila tanaman disawah sudah waktunya dipanen. Pemilik sawah kemudian dicari pemimpin adat untuk mengadakan upacara. Prosesinya adalah :
  1. Menyiapkan ancak, yaitu, anyaman dari bambu yang berbentuk segi empat yang digunakan sebagai pengganti nare (dulang)
  2. Ancak diisi dengan nasi sebatok  (seperiuk kecil) dengan dialasi dengan dedaunan.
  3. Di atas nasi diletakkan lekok lekes yang terdiri dari daun sirih, buah penang, tembakau dan rokok tradisional.
  4. Ancak dibuatkan onger-onger dengan daun kelapa yang diikat daun padi.
  5. Setelah selesai barulah pemimpin adat memberikan doa. Perlengkapan di bawa ke sawah untuk dipasang atau digantung di tempat saluran air pertama yang masuk ke sawah. Pimpinan adat mulai panen dengan membuat inan pade (induk padi ) yang diletakkan di atas ancak. Setelah itu panen bisa dilaksanakan.
  6. Panen diawali oleh pemilik sawah yang diiringi terune dedare (pemuda –pemudi) sambil bekekayak (pantun khas Lombok) secara spontan yang menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menggambarkan kehidupan muda mudi, rasa cinta dan kekaguman. Pada saat ini tidak jarang perjanjian merari’ (kawin) antara pemuda pemudi.

C. Upacara Ngayu-Ayu
Upacara ngayu-ayu adalah sejenis upacara penghormatan kepada alam. Kodrat manusia adalah mengambil berbagai keperluan hidupnya dari alam untuk kelangsungan hidupnya, apapun wujud, cara, dan media yang dipergunakan pada hakikatnya tidak lepas hubungannya dengan pencipta, lingkungan dan sesama manusia.
Dua kebutuhan manusia yang bersifat mendasar adalah kebutuhan lahiriah dan batiniah. Terpenuhnya kebutuhan lahiriyah memberikan dampak kepada kebutuhan batiniah. Sebagai contoh terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan akan dapat memberikan ketenangan  jiwa dan memiliki rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan harapan itulah upacara ngayu-ayu dilaksanakan setiap tanggal 5, 15, 25 bulan Rajab Gumi Sasak. Perhitungan tahun diperhitungkan dengan tahun Sasak yang berputar delapan tahun sekali atau di sebut windu. Perhitungan tahun windu di mulai dengan tahun Alif, tahun  Ehe, tahun Jimawal,  tahun Je, tahun Dal, tahun Be, tahun Wawu, dan tahun Jumahir. Perputaran tahun disebut tahun Penitian sedangkan penyebutan nama bulan memakai nama Hijriyah.
Upacara ngayu-ayu dilaksanakan oleh seorang Kyai, Pemangku, Krama Desa. ngayu-ayu berasal dari kata Rahayu artinya memohon keselamatan. Upacara ngayu-ayu bermula dari keyakinan masyarakat penduduk asli Gumi Sasak terhadap Tuhan Sang Penciptadan kewajiban daripada hamba yang harus menyembah.
Latar belakang kegiatan ini, mereka percaya bahwa pada zaman dahulu, Gumi Sasak didiami oleh tujuh pasangan suami istri yang hidup secara primitif tanpa mengenal peradaban. Mereka belum mengenal pakaian dan bertani. Dalam keadaan yang demikian, datanglah dua orang yaitu Raden Harta Pati,dan Raden Harya Mangujaya yang membawa perubahan kepada ketujuh orang tersebut.
Salah satu pelajaran yang diberikan oleh kedua pendatang tersebut diawali dengan pertanyaan :
  1. Maukah kalian menjadi manusia yang beradab dan berpakaian ?
  2. Maukah kalian hidup diatas tanah ini sebagai manusia selayaknya?
  3. Maukah kalian sebagai manusia yang menyembah Tuhan sebagai menciptamu ?
Ketujuh  menjawab setuju, dan pendatang melanjutkan ajarannya dengan memberikan empat macam pegangan hidup yaitu :
  1. Adat dan Agama sebagai pegangan hidup.
  2. Kitab Al-Qur’an sebagai pedoman adat dan agama.
  3. Satu ikat Padi merah sebagai makanan.
  4. Senjata untuk bertani dan membela diri.
Pada saat itu pula mereka diberi sebuah tempat yang dikenal dengan Gumi Sasak. Diakhir wejangannya kedua orang tersebut memperingati bahwa pada waktu yang akan datang kalian akan menghadapi peperangan tetapi kalian akan mendapat pertolongan. Peperangan tersebut adalah :
  1. Perang Ketupat yaitu perang melawan iblis.
  2. Perang Panah beracun
  3. Perang Bala’.
Dalam peperangan tersebut, masyarakat Gumi Sasak di bantu oleh Raden Ketip, Raden Sayid, Hamzah, Raden Patih Jorong. Ketiga penolong itu, dengan mudah mengalahkan iblis dengan melemparkan ketupat sebanyak tiga kali :
  1. Lemparan pertama pada tanggal 5 dengan mengucap tanggal lima.
  2. Lemparan kedua pada tanggal 15 dengan mengucap tanggal lima belas.
  3. Lemparan ketiga pada tanggal 25 dengan  mengucap  tanggal dua puluh lima.
Ketika lemparan ketiga dilakukan, maka tentara iblis hilang tanpa bekas, setelah selesai peperangan, Raden Ketip, Raden Sayid Hamzah, dan Raden Patih Jorong berpesan kepada masyarakat Gumi Sasak sebagai berikut
  1. Kamu harus mengambil air setiap kali panen padi sebagai tanda kemenangan terhadap iblis.
  2. Setiap tiga tahun sekali kamu harus memotong kerbau sebagai rasa syukur atas kemenangan menghadapi peperangan.
Kedua pesan tersebut dilaksanakan dalam upacara peringatan Perang Ketupat yang diperingati setiap tiga tahun sekali oleh masyarakat Gumi Sasak sampai sekarang. Inilah yang disebut sebagai upacara Ngayu-ayu.
_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas IV oleh H. Sudirman dkk.
read more

Islam Wetu Telu di Gumi Sasak

0 comments


Islam Wetu Telu adalah sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran Islam, Hindu, dan unsur animisme dan antropomorfimisme (Boda). Komunitas Islam Wetu telu adalah segolongan minoritas dari etnis Sasak penganut sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran Islam, Hindu dan unsur animisme dan antropomorfimisme (Boda). Adanya sikritisme semacam itu tercermin pula pada sejumlah lontar yang ditemukan di Lombok, banyak diantara lontar tersebut yang dimulai dari lafal “Bismillah” tapi selanjutnya  memberikan ajaran yang jelas-jelas berdasarkan filsafat Hindu dan Budha. Oleh karena itu Vogellaesaeng mengatakan bahwa Islam Wetu Telu adalah agama Majapahit (Hindu dan Budha) yang sudah dipernis dengan ajaran Islam.
Pada awal penyebaran agama Islam di Lombok, para penyebar Islam tidak pernah menyinggung adat, malah sebaliknya menggunakan adat sebagai alat penyebar Islam selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Al-Quran ditulis dengan memakai tinta Cina, begitu pula dengan kitab-kitab agama dari bahasa Arab disusun dalam bahasa Jawa Kuno dalam bentuk tembang seperti :
  1. shalat mayit
  2. shalat hari lebaran
  3. shalat jum’at
Pada awal penyebaran Islam, para penyebar tidak mewajibkan secara langsung kepada masyarakat di Gumi Sasak untuk Shalat Wajib tetapi yang Shalat cukup hanya Kyai dan Pemangku. Hal inilah yang terjadi sampai sekarang sebagai sebuah bentuk ajaran Islam Wetu Telu.
  A. SEBAB KEMUNCULAN ISLAM WETU TELU
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas secara rinci dapat dijelaskan bahwa sebab-sebab  munculnya Islam Wetu Telu sebagai berikut :
  1. Akibat proses Islamisasi yang belum tuntas menjadi penyebab utama munculnya Islam Wetu Telu. Hal dapat terlihat bahwa,
    • kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti animisme, dinamisme, antropomorfisme (Boda).
    • dominasi ajaran Hindu Majapahit yang telah mendalam.
    • Para mubalig yang menyampaikan Ajaran Islam meninggalkan tempat tersebut untuk menyebarkan agama Islam ke tempat/daerah lain seperti Sumbawa, Dompu dan Bima.
    • Para murid yang melanjutkan pengajaran agama Islam memiliki keilmuan tentang Islam yang belum tuntas dari gurunya.
    • Keengganan dan ketidakmampuan menafsirkembangkan ajaran Islam.
    • Metode Dakwah yang tidak merusak adat istiadat setempat. Sikap toleran para mubalig terhadap kepercayaan lokal tradisional menimbulkan persepsi tersendiri di kalangkan masyarakat Sasak bahwa ajaran Islam sejatinya tidak berbeda dengan kepercayaan leluhurnya.
    • Kebijakan politik keagamaan para penguasa Hindu-Bali di Lombok yang secara umum menghambat proses pembinaan keagamaan umat Islam.
    • Penyebaran Agama Hindu secara aktif dilangsungkan menyusul semakin pudarnya keislaman pada masyarakat Sasak. Demikian (Nirartha), seorang pendeta berkasta Brahmana yang aktif berusaha menyebarkan Hindu berdasarkan mandat dari raja Bali. Dalam praktiknya, ia mencoba meramu antar unsur dalam ajaran Islam, Hindu dan kepercayaan tradisional (boda) masyarakat.
B.   ARTI dan MAKNA WETU TELU
Beberapa arti dan makna Wetu Telu dapat dijabarkan sebagai beerikut
  1. Wetu berarti hukum dan telu berarti tiga. Adapun hukum yang ketiga itu yang dimaksudkan ialah
  • adat
  • agama
  • pemerintah
2. Semua makhluk hidup muncul (metu) melalui tiga jenis sistem yaitu
  • mentiuq (berkembang  biak dari benih) seperti tumbuhan
  • menteluq (bertelur) seperti unggas
  • menganak (melahirkan) seperti manusia
3. Pengakuan terhadap Tuhan, Adam dan Hawa
4. Keharusan semua makluk hidup melalui tiga tahapan rangkaian siklus yaitu :
  • menganak (dilahirkan)
  • urip (hidup)
  • mate (meninggal dunia)
5. Kepercayaan masyarakat terhadap Al-Quran, Hadist, dan Ijma para ulama.
6. Kenyataan hidup yang tidak pernah terlepas dari
  • hari
  • bulan
  • tahun
C.   KOMUNITAS dan RITUAL WETU TELU
Sampai saat ini, komunitas Waktu Telu terletak di kawsan Tanjung dan beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, Akar-akar, dan Mumbul Sari. Sedangkan dusun-dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Manis, Dasan Tutul, Nangka Rempek, Semongka dan Lendang Jeliti. Bahkan sisa-sisa kepercayaan kepada suatu benda masih tersisa sampai sekarang.
Pada prinsipnya bentuk ritual Wetu Telu dapat disederhanakan ke dalam dua bentuk perwujudan yaitu.
  1. Penghormatan Terhadap Roh
Keyakinan komunitas Islam Wetu Telu adalah percaya kepada makhluk halus yang bersemayam pada benda mati atau benda tertentu atau memiliki kekuatan tetapi tunduk di hadapkan kekuatan Tuhan. Menyangkut Roh leluhur, mereka percaya bahwa Adam dan Hawa merupakan asal usul nenek moyang kita.
Untuk penghormatan terhadap leluhur yang terdahulu mereka memperlakukannya secara berlebihan. Mereka beranggapan bahwa  kuburannya sebagai makam keramat sedangkan dari kelompok-kelompok yang terakhir mereka kuburkan di pemakaman biasa.
2. Penyelenggaraan Upacara Tertentu
Banyak bentuk ritual yang dihayati dan dijalankan oleh komunitas Islam Wetu Telu, antara lain.
I.    Perayaan Hari besar Islam
Perayaan Hari Besar Islam bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah, akan tetapi Perayaan Hari Besar Islam dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat Islam Wetu Telu. Perayaan-perayaan tersebut dilakukan untuk mengenang kembali dan mengambil nilai-nilai yang positif.
Adapun bentuk-bentuk uopacara Islam Wetu Telu seperti :
  • Roah Wulan dilaksanakan pada bulan Sya’ban
  • Selamatan Qunut dilaksanakan pada bulan Ramadhan
  • Maleman Likuran dilaksanakan pada bulan Ramadhan
  • Malaman Fitrah dilaksanakan pada bulan Ramadhan
  • Lebaran Topat dilaksanakan pada bulan Syawal
  • Qulhu Sataq dilaksanakan pada bulan Syawal
  • Selamatan Bubur Putiq dilaksanakan pada bulan Syafar
  • Selamatan Bubur Abang dilaksanakan pada bulan Syafar
  • Ngangkat Syare’at Maulud dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal
  • Teq Berat Isra’ Mikraj dilaksanakan pada bulan Rajab.
 II       Upacara Peralihan Individu
Upacara Peralihan Individual dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur dan berharap akan menemukan perjalanan hidup yang lebih baik. Perjalanan hidup yang dimaksudkan adalah perjalanan ketika masih hidup di dunia maupun kehidupan di hari kemudian.
Upacara yang terkait dengan seseorang atau individu yang dilaksanakan pada waktu masih hidup disebut gawe urip sedangkan upacara ritual yang dilaksanakan setelah orang tersebut meninggal dunia disebut gawe pati.
  1. Gawe Urip
  • Buang au (upacara kelahiran)
  • Ngurisang (potong rambut)
  • Molang malik
  • Ngitanang (sunatan)
  • Merosok (meratakan gigi)
  • Merariq
  • Saur sesangi (memenuhi sumpah)
  • Rowah bale
2. Gawe Pati
  • Selamatan nyusur tanaq (pemakaman)
  • Nelung (ritual hari ketiga)
  • Mituq (ritual hari ketujuh)
  • Nyiwaq (ritual hari kesembilan)
  • Matang puluh (ritual hari keempat puluh)
  • Nyatus (ritual hari keseratus)
  • Nyiu (ritual hari keseribu)
  • Naonin (ritual pada hari kematian)selamatan mengasuh
I II.    Upacara Siklus Tanam
 Banyak ritual yang dilakukan pada waktu melangsungkan proses menanam suatu jenis tumbuhan yang disebut adat bonga padi. Upacara ini dilakukan sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharap agar segala sesuatu jerih payah pada waktu menanam dapat lebih bermanfaat. Prosesi atau ritual ini merupakan salah satu bentuk aplikasi masyarakat Islam Wektu Telu dalam Pengelolaan sumber daya alam.
Bentuk-bentuk upacara adat seperti itu disebut adat bunga padi. Adat tersebut dilakukan pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan musim tanam atau kalender yang telah ditentukan dalam sistem penanggalan. Adapun bentuk-bentuk adat bonga padi antara lain :
  • Ngaji makam Turun Bibit
  • Ngaji Makam Tunas Setamba
  • Ngaji Makam Ngaturang Ulak Kaya
  • Nyelametang Pare
  • Ngaji Ngrangkep
  • Rowah Sambi
  • Rowah Gelang
  • Selametang Kuta(lawang Desa)
  • Selamatan Obor (Subak)
Untuk pelaksanaan setiap upacara tersebut khususnya untuk adat bonga padi dilakukan dengan memakai kalender Islam (Tahun Hijriah) tetapi juga mempergunakan pola dan sistem penghitungan kalender Islam Wetu Telu. Kalender tersebut mengenal  Siklus 8 tahunan, 12 bulanan, dan 7 hari dalam seminggu, dengan nama tahun-tahun alif, dan seterusnya.
_________________________________________________________________________
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

| Guru Madrasah Blog © 2013. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Edited by Abdul Hanan | Back To Top |